Kasih Sayang Seorang Ibu

December 12th, 2007 by hoshiicaq

             

             

               

             

             

               

             

             

               
Kasih Sayang Seorang Ibu 
oleh : Rini NB
 
               

Saat kau berumur 1 tahun, dia menyuapi dan memandikanmu.

Sebagai balasannya, kau menangis sepanjang malam.

Saat kau berumur 2 tahun, dia mengajarimu bagaimana cara berjalan.

Sebagai balasannya, kau kabur saat dia memanggilmu.

Saat kau berumur 3 tahun, dia memasakkan semua makananmu dengan kasih  sayang.

Sebagai balasannya, kau buang piring berisi makanan ke lantai.

Saat kau berumur 4 tahun, dia memberimu pensil berwarna.

Sebagai balasannya, kau coret-coret dinding rumah dan meja makan.

Saat kau berumur 5 tahun, dia membelikanmu pakaian-pakaian yang mahal dan indah.

Sebagai balasannya, kau memakainya untuk bermain di kubangan lumpur dekat rumah.

Saat kau berumur 6 tahun, dia mengantarmu pergi ke sekolah.

Sebagai balasannya, kau berteriak."NGGAK MAU!!"

Saat kau berumur 7 tahun, dia membelikanmu bola.

Sebagai balasannya, kau lemparkan bola ke jendela tetangga.

Saat kau berumur 8 tahun, dia memberimu es krim.

Sebagai balasannya, kau tumpahkan hingga mengotori seluruh bajumu.

Saat kau berumur 9 tahun, dia membayar mahal untuk kursus bahasamu.

Sebagai balasannya, kau sering bolos dan sama sekali tidak pernah berlatih.

Saat kau berumur 10 tahun, dia mengantarmu ke mana saja, dari kolam renang hingga pesta ulang tahun.

Sebagai balasannya, kau melompat keluar mobil tanpa memberi salam.

Saat kau berumur 11 tahun, dia mengantar kau dan teman-temanmu ke bioskop.

Sebagai balasannya, kau minta dia duduk di baris lain.

Saat kau berumur 12 tahun, dia melarangmu untuk melihat acara TV khusus orang dewasa.

Sebagai balasannya, kau tunggu sampai dia di keluar rumah.

Saat kau berumur 13 tahun, dia menyarankanmu untuk memotong rambut, karena sudah waktunya.

Sebagai balasannya, kau katakan dia tidak tahu mode.

Saat kau berumur 14 tahun, dia membayar biaya untuk kempingmu selama sebulan liburan.

Sebagai balasannya, kau tak pernah meneleponnya.

Saat kau berumur 15 tahun, dia pulang kerja ingin memelukmu.

Sebagai balasannya, kau kunci pintu kamarmu.

Saat kau berumur 16 tahun, dia ajari kau mengemudi mobilnya.

Sebagai balasannya, kau pakai mobilnya setiap ada kesempatan tanpa peduli kepentingannya.

Saat kau berumur 17 tahun, dia sedang menunggu telepon yang penting.

Sebagai balasannya, kau pakai telepon nonstop semalaman.

Saat kau berumur 18 tahun, dia menangis terharu ketika kau lulus SMA.

Sebagai balasannya, kau berpesta dengan temanmu hingga pagi.

Saat kau berumur 19 tahun, dia membayar biaya kuliahmu dan mengantarmu ke kampus pada hari pertama.

Sebagai balasannya, kau minta diturunkan jauh dari pintu gerbang agar kau tidak malu di depan teman-temanmu.

Saat kau berumur 20 tahun, dia bertanya, "Dari mana saja seharian ini?"

Sebagai balasannya, kau jawab,"Ah Ibu cerewet amat sih, ingin tahu urusan orang!"

Saat kau berumur 21 tahun, dia menyarankan satu pekerjaan yang bagus untuk karirmu di masa depan.

Sebagai balasannya, kau katakan,"Aku tidak ingin seperti Ibu."

Saat kau berumur 22 tahun, dia memelukmu dengan haru saat kau lulus perguruan tinggi.

Sebagai balasannya, kau tanya dia kapan kau bisa ke Bali.

Saat kau berumur 23 tahun, dia membelikanmu 1 set furniture untuk rumah barumu.

Sebagai balasannya, kau ceritakan pada temanmu betapa jeleknya furniture itu.

Saat kau berumur 24 tahun, dia bertemu dengan tunanganmu dan bertanya tentang rencananya di masa depan.

Sebagai balasannya, kau mengeluh,"Aduuh, bagaimana Ibu ini, kok bertanya seperti itu?"

Saat kau berumur 25 tahun, dia mambantumu membiayai penikahanmu.

Sebagai balasannya, kau pindah ke kota lain yang jaraknya lebih dari 500 km.

Saat kau berumur 30 tahun, dia memberikan beberapa nasehat bagaimana merawat bayimu.
Sebagai balasannya, kau katakan padanya,"Bu, sekarang jamannya sudah berbeda!"

Saat kau berumur 40 tahun, dia menelepon untuk memberitahukan pesta ulang tahun salah seorang kerabat.

Sebagai balasannya, kau jawab,"Bu, saya sibuk sekali, nggak ada waktu."

Saat kau berumur 50 tahun, dia sakit-sakitan sehingga memerlukan perawatanmu.

Sebagai balasannya, kau baca tentang pengaruh negatif orang tua yang menumpang tinggal di rumah anak-anaknya.

Dan hingga suatu hari, dia meninggal dengan tenang. Dan
tiba-tiba kau teringat semua yang belum pernah kau lakukan, karena
mereka datang menghantam HATI mu bagaikan palu godam.(opinum.com)

24 Tips Menempuh Kehidupan

December 12th, 2007 by hoshiicaq

             

             

               

             

             

               

             

             

               
24 Tips Menempuh Kehidupan   
 
               
  1. Jangan tertarik kepada seseorang karena parasnya, sebab keelokan paras dapat
        menyesatkan. Jangan pula tertarik kepada kekayaannya, karena kekayaan dapat
        musnah. Tertariklah kepada seseorang yang dapat membuatmu tersenyum, karena
        hanya senyum yang dapat membuat hari-hari yang gelap menjadi cerah. Semoga
        kamu menemukan orang seperti itu.
  2. Ada saat-saat dalam hidup ketika kamu sangat merindukan seseorang sehingga
        ingin hati menjemputnya dari alam mimpi dan memeluknya dalam alam nyata. Semoga
        kamu memimpikan orang seperti itu.
  3. Bermimpilah tentang apa yang ingin kamu impikan, pergilah ke tempat kamu
        ingin pergi, jadilah seperti yang kamu inginkan,karena kamu hanya memiliki
        satu kehidupan dan satu kesempatan untuk melakukan hal-hal yang ingin kamu
        lakukan.
  4. Semoga kamu mendapatkan kebahagiaan yang cukup untuk membuatmu baik hati,
        cobaan yang cukup untuk membuatmu kuat, kesedihan yang cukup untuk membuatmu
        manusiawi, pengharapan yang cukup untuk membuatmu bahagia dan uang yang cukup
        untuk membeli hadiah-hadiah.
  5. Ketika satu pintu kebahagiaan tertutup, pintu yang lain dibukakan. Tetapi
        acapkali kita terpaku terlalu lama pada pintu yang tertutup sehingga tidak
        melihat pintu lain yang dibukakan bagi kita.
  6. Sahabat terbaik adalah dia yang dapat duduk berayun-ayun di beranda bersamamu,
        tanpa mengucapkan sepatah katapun, dan kemudian kamu meninggalkannya dengan
        perasaan telah bercakap-cakap lama dengannya.
  7. Sungguh benar bahwa kita tidak tahu apa yang kita milik sampai kita kehilangannya,
        tetapi sungguh benar pula bahwa kita tidak tahu apa yang belum pernah kita
        miliki sampai kita mendapatkannya.
  8. Pandanglah segala sesuatu dari kacamata orang lain. Apabila hal itu menyakitkan
        hatimu, sangat mungkin hal itu menyakitkan hati orang itupula.
  9. Kata-kata yang diucapkan sembarangan dapat menyulut perselisihan. Kata-kata
        yang kejam dapat menghancurkan suatu kehidupan. Kata-kata yang diucapkan pada
        tempatnya dapat meredakan ketegangan. Kata-kata yang penuh cinta dapat menyembuhkan
        dan memberkahi.
  10. Awal dari cinta adalah membiarkan orang yang kita cinta menjadi dirinya
        sendiri, dan tidak merubahnya menjadi gambaran yang kita inginkan.Jika tidak,
        kita hanya mencintai pantulan diri sendiri yang kita temukan di dalam dia.
     
  11. Orang-orang yang paling berbahagia tidak selalu memiliki hal-hal terbaik,
        mereka hanya berusaha menjadikan yang terbaik dari setiap hal yang hadir dalam
        hidupnya.
  12. Mungkin Tuhan menginginkan kita bertemu dengan beberapa orang yang salah
        sebelum bertemu dengan orang yang tepat, kita harus mengerti bagaimana berterima
        kasih atas karunia itu.
  13. Hanya diperlukan waktu semenit untuk menaksir seseorang, sejam untuk menyukai
        seseorang dan sehari untuk mencintai seseorang tetapi diperlukan waktu seumur
        hidup untuk melupakan seseorang.
  14. Kebahagiaan tersedia bagi mereka yang menangis, mereka yang disakiti hatinya,
        mereka yang mencari dan mereka yang mencoba. Karena hanya mereka itulah yang
        menghargai pentingnya orang-orang yang pernah hadir dalam hidup mereka.
  15. Cinta adalah jika kamu kehilangan rasa, gairah, romantika da masih tetap
        peduli padanya.
  16. Hal yang menyedihkan dalam hidup adalah ketika kamu bertemu seseorang yang
        sangat berarti bagimu dan mendapati pada akhirnya bahwa tidak demikian adanya
        dan kamu harus melepaskannya.
  17. Cinta dimulai dengan sebuah senyuman, bertumbuh dengan sebuah ciuman dan
        berakhir dengan tetesan air mata.
  18. Cinta datang kepada mereka yang masih berharap sekalipun pernah dikecewakan,
        kepada mereka yang masih percaya sekalipun pernah dikhianati, kepada mereka
        yang masih mencintai sekalipun pernah disakiti hatinya.
  19. Sungguh menyakitkan mencintai seseorang yang tidak mencintaimu,tetapi yang
        lebih menyakitkan adalah mencintai seseorang dan tidak pernah memiliki keberanian
        untuk mengutarakan cintamu kepadanya.
  20. Masa depan yang cerah selalu tergantung kepada masa lalu yang dilupakan,
        kamu tidak dapat hidup terus dengan baik jika kamu tidak melupakan kegagalan
        dan sakit hati di masa lalu.
  21. Jangan pernah mengucapkan selamat tinggal jika kamu masih mau mencoba, jangan
        pernah menyerah jika kamu masih merasa sanggup jangan pernah mengatakan kamu
        tidak mencintainya lagi jika kamu masih tidak dapat melupakannya.
  22. Memberikan seluruh cintamu kepada seseorang bukanlah jaminan dia akan membalas
        cintamu! Jangan mengharapkan balasan cinta, tunggulah sampai cinta berkembang
        di hatinya, tetapi jika tidak, berbahagialah karena cinta tumbuh dihatimu.
     
  23. Ada hal-hal yang sangat ingin kamu dengar tetapi tidak akan pernah kamu
        dengar dari orang yang kamu harapkan untuk mengatakannya. Namun demikian janganlah
        menulikan telinga untuk mendengar dari orang yang mengatakannya dengan sepenuh
        hati.
  24. Waktu kamu lahir, kamu menangis dan orang-orang disekelilingmu tersenyum
        - jalanilah hidupmu sehingga pada waktu kamu meninggal, kamu tersenyum dan
        orang-orang disekelilingmu menangis.

Ada Apa dengan Cinta ??

December 12th, 2007 by hoshiicaq

             

             

               

             

             

               

             

             

               
Ada Apa dengan Cinta ??   
 
               

C-I-N-T-A

Apaan sih ngomong2 "cinta" itu ? telapak tangan anda berkeringat,
hati anda deg-degan, suara anda nyangkut di dalam tenggorokan anda?
  Hal itu bukanlah cinta, tapi suka …
   

  Apakah tangan anda tidak dapat berhenti memegang dan menyentuhnya?
  Hal itu bukanlah cinta, tapi birahi …
  Apakah anda bangga dan selalu ingin memamerkannya kepada semua orang?
  Hal itu bukanlah cinta, tapi anda sedang mujur…
  Apakah anda menginginkannya karena anda tahu dia akan selalu di samping anda?
  Hal itu bukanlah cinta, tapi kesepian …
   

  Apakah anda masih bersama dia karena semua orang menginginkannya?
  Hal itu bukanlah cinta, tapi kesetiaan …
  Apakah anda menerima pernyataan cintanya karena anda tidak mau menyakiti hatinya?
  Hal itu bukanlah cinta, tapi rasa kasihan …
 
  Apakah anda bersedia untuk memberikan semua yang anda suka untuk dia?
  Hal itu bukanlah cinta, tapi kemurahan hati …
  Apakah anda cemburu bila dia bicara dengan lelaki/wanita lain ?
  Hal itu bukanlah cinta, tapi takut kehilangan …
  Apakah anda mengatakan padanya bahwa dia adalah satu satunya hal yang anda pikirkan?
  GOMBAL …
 
  Apakah anda masih bersamanya karena campuran dari rasa nyeri dan kegembiraan yang tidak dapat digambarkan kata-kata? Itulah cinta
  Apakah anda masih menerima kesalahannya karena hal itu adalah bagian dari kepribadiannya?
  Itulah cinta
 
  Apakah anda tertarik pada orang lain, tapi masih bersamanya dengan setia?
  Itulah cinta
 
  Apakah anda rela memberikan hati anda, kehidupan anda, dan kematian anda?
  Itulah cinta
 
  Apakah hati anda tercabik bila dia sedang sedih?
  Itulah cinta
  Apakah anda menangis untuk kepedihannya biarpun dia cukup tegar?
  Itulah cinta
  Apakah anda ikut terluka bila dia sedang sakit?
  Itulah cinta
  Apakah anda selalu ingin menyentuhnya, memeluknya karena anda sayang kepadanya?
  Itulah cinta
 
  Apakah matanya melihat hati anda yang sesungguhnya dan menyentuh jiwa anda secara dalam sekali sampai terasa nyeri?
  Itulah cinta
 
Cinta memang merupakan sesuatu yg ABSURD and Unexplain, tapi yg
terpenting mencintailah karena itu adalah sesuatu yang dianugerahi oleh
TUHAN Terimalah pasangan anda dgn segala kekurangan dan kelebihannya.
  Cinta itu harus saling memberi dan menerima dgn segala keikhlasan hati

nb : from www.dudung.net.

selamat malam cinta

July 7th, 2007 by hoshiicaq

Selamat Malam Cinta

Untuk pertama kalinya dalam hidup saya, saya melihatnya ketika Baturetno sedang basah dengan air hujan. Malam yang berkabut ketika itu, dan ia mengetuk pintu perlahan, "Assalamu’alaikum…!"

Cakep, saya pikir. Jauh nilainya di atas perkiraan saya sebelumnya ketika Bapak mengatakan akan ada penghuni baru di rumah ini. Kalau Gunawan yang bintang sinetron itu saya beri nilai sepuluh, maka tentu ia akan saya beri nilai dua belas.

"Saya Dha, dari Tawangsari." Kenalnya pada Bapak sambil menarik ujung-ujung bibirnya ke atas, membentuk senyuman. Saya pikir Bapak sudah tahu tentang itu, dan semuanya sekedar basa-basi. Bahwa akan ada orang yang ngekost di salah satu kamar di rumah ini. Seorang guru privat komputer.

Dan tiba-tiba saja saya ingin mengenalkan diri pada makhluk indah itu. "Saya Re, anak bungsu Bapak." Tangan saya terulur. Saya sangat berharap dia akan menyambut, dan berlanjut dengan pandangan-pandangan… namun ternyata tangan itu mengayun lembut dan bertemu masing-masing tapak tangannya di depan dadanya sendiri.

"Oh, senang sekali bisa berkenalan langsung dengan putri Pak Sadar."

Tangan saya menggantung, membuat wajah saya merah jambu. Ketus, batin saya.

Itu kesan pertama kali, namun segera terusir setelah saya mengenal Mas Dha. Umurnya sekitar jigo. Belum tua benar untuk saya kenalkan dengan teman-teman saya di sekolah. Dan karena itu saya suka mencari-cari alasan agar Mas Dha bersedia ke sekolah saya. Kadang-kadang dengan alasan sakit, minta dijemput, atau rapat wali murid, atau.. ah, kemudian Mas Dha banyak membimbing saya dalam belajar, banyak mengerti problem-problem saya, dan bahkan terkesan saya sangat manja kepadanya.

"Mas sudah punya pacar?" tanya saya nekad. Bloon kalau saya menganggap Mas Dha pacar saya, karena kendati dekat, Mas Dha tak pernah memandang saya, apalagi menyentuh saya. Saya bahkan belum berhasil menjabat tangannya, padahal saya ingin.

Kenekadan itu karena saya tertarik padanya. Dan dengan sabar saya mengembarakan perasaan saya untuk kemudian saya sampai pada satu kesimpulan, saya mencintainya. Saya menyukai setiap yang disukainya.

Bahkan lucu sekali ketika Mas Dha mengatakan kurang suka dengan pakaian warna merah menyala, saya ikut-ikutan memberantas pakaian saya yang mengandung warna itu, hingga betul-betul habis. Dan sebagai gantinya saya ganti kepada warna krem dan coklat susu kesenangan Mas Dha. Mas nggak suka sinetron, dan itu membuat saya memiliki banyak waktu untuk belajar yang dulu tersita habis untuk nonton TV.

Suatu ketika saya ditegur Mas Dha, ketika saya bangun lewat jam setengah enam. "Udah Shubuh belum?" Busyeeet! Apa Mas nggak tahu kalau saya tidak pernah sholat seperti kebanyakan teman-teman saya? Namun barulah saya perhatikan Mas Dha sangat memperhatikan sholatnya. Saya seorang Islam, namun saya pikir, saya belum menjadi pemeluknya selama ini. Namun tak apalah, saya memulai sekarang karena saya lihat Mas Dha bangga dengan Islamnya. Saya pun harus bangga, kan? Saya pun mulai sholat. Menjemukan pertamanya. Namun pada akhirnya menjadi semacam kebutuhan dan menuntut untuk saya penuhi setiap waktu-waktunya.

Bapak membiarkan saja tingkah laku saya, dan saya yakin beliau mengerti apa yang tengah hidup dalam hati anaknya. ia membiarkan saja saya meniru-niru Mas Dha sebagaimana saya dibiarkan tidak sholat selama ini.

Satu hal yang saya kagumi, Mas Dha sangat dekat dengan Bapak. Kedekatan yang melebihi kedekatan Bapak dengan Mas Mus, kakak laki-laki saya yang sekarang menjadi marinir dan sangat jarang pulang.

"Dha itu ngajeni wong tuwo. Tahu unggah-ungguh," puji Bapak di depan saya tanpa sepengetahuan Mas Dha, dan itu ikut membuat saya kembang kempis. "Betapa senangnya Bapak punya anak seperti Dha," lanjut Bapak. Anak? pikir saya. Menantu gitu… :)
Suatu ketika Mas Dha pulang agak lama ke Tawangsari, negeri asalnya. Secara geografis, dengan Baturetno tidak jauh. Namun jalur transportasi seperti terputus oleh banyaknya pegunungan sehingga jalanan tak begitu nyaman. Maka untuk mencapai Tawangsari dengan angkutan umum, harus memutar lagi lwar Wonogiri, dan Sukoharjo yang di sebelh ujungnya terletak Tawangsari. Jauh. Satu minggu dihabiskan Mas Dha di sana, dan itu membuat saya kehilangan gairah. Saya menunggu mudah-mudahan Mas Dha kangen dengan saya dan pulang ke Baturetno lebih awal dari rencananya.

Tapi apa Mas Dha kangen dengan saya, ya? Namun saya lebih dulu menyimpulkan bahwa saya sangat mencintai Mas Dha. Karena itu saya nekad mengemukakan ini pada Mas. Tunggu saja nanti…

Namun mata itu menatap kejauhan dan bibirnya tersenyum. Apakah lucu keterusterangan saya? Saya pikir Mas Dha menertawakan saya. Dan karena itu membuat saya sangat sedih. "Mas jahat pada Re… !"

"Bukan begitu, Re."

"Kenapa Mas menertawakan saya?"

"Mas tidak menertawakanmu. Mas hanya sibuk memilih kalimat jawaban yang terbaik untuk Mas, dan untuk Re."

"Mas tidak suka?"

"Yang Re inginkan bagaimana?"

Sebodo amat. Saya kadung bicara, dan rasanya tak perlu basa-basi lagi. "Saya pengin Mas Dha jadi pacar saya."

"Re udah pingin nikah?"

Ini lagi. Kenapa error? "Siapa pingin nikah? Saya hanya ingin Mas jadi pacar saya."

"Pacaran itu.. bla.. bla.. bla.."

Ya ampun, kenapa mesti kembali ke jaman meganthropus semacam ini pemikirannya? Namun saya rasa, ada baiknya saya menyimak pembicaraan Mas Dha tentang pacaran yang haram itu. Pergaulan yang bebas itu. Konsep menundukkan pandangan itu. Tata pergaulan yang Islami itu.

Dan saya betul-betul menyimaknya. Heran, saya pikir. Semua sudah pernah saya dengarkan, baik di ta’lim-ta’lim, baca buku, atau lewat buletin yang sering disodorkan Maya teman sekolahku itu. Namun baru kali ini saya menyimaknya dengan sungguh-sungguh sehingga barulah saya mengerti.

Pagi berikutnya Mas Dha pulang lagi. Tidak pamit pada saya. Saya yakin Mas Dha marah pada saya karena pada malam harinya saya mencoba ketus padanya. Saya ingin tunjukkan pada Mas bahwa saya memiliki keberanian melawan perkataan Mas Dha.

Ketika itu Mas mengatakan pada saya bahwa saya harus Islam. Saya kan sudah Islam. Saya tunjukkan kartu pelajar saya, dan saya tegaskan pada Mas, data kualifikasi saya pada option agama terdiri dari lima huruf, agar jelas saya eja sekalian: I-es-el-a-em. Dan sampai dimanapun, itu akan dibaca Islam, Mas Dha malah tersenyum. "Islam dalam arti kata sesungguhnya."

"Yang bagaimana?"

"Menyerahkan diri kita sepenuhnya dalam beragama, dan rela hidup kita diatur oleh Allah."

Mas Dha membaca sebuah hadits tentang Asma’ bahwa seorang wanita yang telah datang haidnya, hendaklah menutup seluruh tubuhnya kecuali muka dan telapak tangannya. Saya paham kala Mas meninta saya memakai jilbab. Seperti Maya, mungkin. Ah, mana mungkin? Bagaimana dengan rambutku yang menurut teman-teman indah? Bagaimana dengan kaos dan bajuku yang ketat itu? Suliiiitt…

Saya tinggalkan Mas Dha yang terpukau dengan makian saya. Saya lebih suka tenggelam di kamar memeluk bantal. Dan hari itulah saya menangis sejadi-jadinya. Mas Dha jelek.

Dan kepergian kali ini membuat saya sepi. Sepi yang sangat berlipat dari sepi biasa. Saya merajuk, ternya Mas mebalas dengan kemarahan yang sama sampai meninggalkan rumah ini. Padahal saya kan berhak merajuk. Saya kan bungsu, yee…

Sepi itu membawa saya ke ruang belajar. Kamar yang tak begitu luas, membuat Bapak membuat ruang khusus untuk belajar para penghuni kost. Mata saya menumbuk ke meja sudut di mana rak buku Mas Dha tertata rapi. Tiba-tiba saya ingin meraihnya. Saya sangat takut kehilangan Mas. Saya kembali menangis sedih.

Maka di sanalah saya temukan tulisan singkat Mas Dha "Kenapa harus Mas, Re? Re harus yakin dengan skenario Allah. Re harus ikhlas dengan ketentuan Allah, karena Dialah cinta sejati itu. Selain itu semu belaka."

Saya mencoba menerjemahkan kalimat Mas Dha. Kenapa saya tak mengambil cinta yang sejati saja? Kenapa saya tak mencoba mencintai Allah yang jelas tak akan sirna. Dia akan selalu membalas cinta kita dengan berlipat ganda. Dan.. saya semakin menangis. Hik.. hik.. hik..

Malam yang merambat dingin. Dan saya tahu dalam kesunyian yang semacam ini, Mas Dha sering bangun pelan-pelan. Mengambil air wudhlu dan sholat tahajjud di Mushola. Saya mencari tahu dan seperti saya katakan, sekarang saya menjadi sangat bersemangat untuk mencari tahu. Dan betapa berharganya sepertiga malam yang terakhir ini.

Allah…

Saya telah memutuskan untuk melepas segala ikatan cinta yang membelenggu jiwa sehingga hanya Engkau yang bertahta di jiwa saya. Saya akan selalu takut kehilangan Mas Dha jika saya meletakkan cinta saya pada Mas Dha. Saya takin karena tak ada yang akan lepas dari satu ikatan, yakni mati. Lalu saya bergidik mengingat maut.

Saya telah putuskan untuk bersabar melayarkan rindu saya di sepertiga malam terakhirMu yang saya eja, mencoba saya eja. Nikmaat sekali…

Sedangkan ini entah malam yang keberapa. Saya tak lagi menghitung hari seperti waktu lewat. Saya mencoba tak mengharapkan Mas Dha lagi, kendati kadang-kadang masih juga ingin. Saya telah mintakan padaMu ya Kekasih, Cintaku. Agar jangan Kau hadirkan dia lagi jika itu tak baik buat saya. Atau hadirkan segera jika memang Kau pandang baik untuk saya.

Selamat malam, Cinta.. Ini entah malam yang keberapa. Saya telah mengambil satu langkah, semoga dalam ridhaMu.

Agak aneh, karena di meja depan saya melihat terang lampu yang tak biasanya pada malam-malam begini. Ada ucapan-ucapan lirih yang sesayup sampai. Saya tergoda untuk mendekat.

"Jadi kamu akan segera menikah?" tanya Bapak kepada… Ya Rabb.. saya segera mengenali suara Mas Dha.

"Betul, Pak. Ingin sebenarnya seperti niat Bapak untuk mengeratkan hubungan kekeluargaan ini dengan menikahi putri Bapak. Tapi saya memutuskan untuk menikah sekarang. Saya membutuhkan pendamping segera, dan itu kecil kemungkinan karena Re masih sekolah."

Alasan yang diplomatis saya rasa. Dan tiba-tiba saya berdebar. Jadi Bapak punya rencana ini sebelumnya? Oh, Bapakku..

"Tidak apa-apa, Dha. Hanya mungkin Bapak harus menyimpan keinginan Bapak untuk memiliki anak sepertimu."

Getir suara Bapak. Mungkin segetir perasaan saya. Tentu Mas Dha telah memiliki pilihan yang lebih baik dari saya. Seorang muslimah yang tawadhu’ dan penuh pengabdian.

"Bapak..! Saya tentu anak Bapak. Anggaplah saya sebagai anak, dan seterusnya semacam itu, karena saya juga menganggap Bapak sebagai Bapak saya sendiri."

Saya kuatkan hati saya. Malam ini saya mulai kenakan baju taqwa saya. Saya memutuskan memakainya lewat pemikiran panjang. Dan itu saya laksanakan akhirnya malam ini. Saya malu-malu melangkah menemui Mas. Dan anggaplah saya tetap sebagai adikmu, Mas.

Sungguh..! Saya ingin membuktikan bahwa cinta saya tertuju lurus untuk Allah saja.

Buat semua yang sedang dilanda asmara, kamu masih merasa diawasi Allah, kan?

Oleh:Sakti Wibowo

Ketika Derita Mengabadikan Cinta

July 7th, 2007 by hoshiicaq

Ketika Derita Mengabadikan Cinta

Kini
tiba saatnya kita semua mendengarkan nasihat pernikahan untuk kedua
mempelai yang akan disampaikan oleh yang terhormat Prof. Dr. Mamduh
Hasan Al-Ganzouri . Beliau adalah Ketua Ikatan Dokter Kairo dan
Direktur Rumah Sakit Qashrul Aini, seorang pakar Syaraf terkemuka di
Timur Tengah, yang tak lain adalah juga dosen kedua mempelai. Kepada
Professor dipersilahkan. …….

Suara pembawa acara walimatul urs itu menggema di seluruh ruangan
resepsi pernikahan nan mewah di Hotel Hilton Ramses yang terletak di
tepi sungai Nil, Kairo.

Seluruh hadirin menanti dengan penasaran, apa kiranya yang akan
disampaikan pakar Syaraf jebolan London itu. Hati mereka menanti-nanti
mungkin akan ada kejutan baru mengenai hubungan pernikahan dengan
kesehatan syaraf dari professor yang murah senyum dan sering nongol di
televisi itu.

Sejurus kemudian, seorang laki-laki separuh baya berambut putih
melangkah menuju podium. Langkahnya tegap. Air muka di wajahnya
memancarkan wibawa. Kepalanya yang sedikit botak, meyakinkan bahwa ia
memang seorang ilmuan berbobot. Sorot matanya yang tajam dan kuat,
mengisyaratkan pribadi yang tegas. Begitu sampai di podium, kamera
video dan lampu sorot langsung shoot ke arahnya. Sesaat sebelum bicara,
seperti biasa, ia sentuh gagang kacamatanya, lalu…

Bismillah, Alhamdulillah, Washalatu was Salamu’ala Rasulillah, amma
ba’du. Sebelumnya saya mohon ma’af, saya tidak bisa memberi nasihat
lazimnya para ulama, para mubhaligh dan para ustadz. Namun pada
kesempatan kali ini perkenankan saya bercerita… Cerita yang hendak
saya sampaikan kali ini bukan fiktif belaka dan bukan cerita biasa.
Tetapi sebuah pengalaman hidup yang tak ternilai harganya, yang telah
saya kecap dengan segenap jasad dan jiwa saya. Harapan saya, mempelai
berdua dan hadirin sekalian yang dimuliakan Allah bisa mengambil hikmah
dan pelajaran yang dikandungnya. Ambillah mutiaranya dan buanglah
lumpurnya.

Saya berharap kisah nyata saya ini bisa melunakkan hati yang keras,
melukiskan nuansa-nuansa cinta dalam kedamaian, serta menghadirkan
kesetiaan pada segenap hati yang menangkapnya.

Tiga puluh tahun yang lalu …
Saya adalah seorang pemuda, hidup di tengah keluarga bangsawan menengah
ke atas. Ayah saya seorang perwira tinggi, keturunan "Pasha" yang
terhormat di negeri ini. Ibu saya tak kalah terhormatnya, seorang lady
dari keluarga aristokrat terkemuka di Ma’adi, ia berpendidikan tinggi,
ekonom jebolan Sorbonne yang memegang jabatan penting dan sangat
dihormati kalangan elit politik di negeri ini.

Saya anak sulung, adik saya dua, lelaki dan perempuan. Kami hidup dalam
suasana aristokrat dengan tatanan hidup tersendiri. Perjalanan hidup
sepenuhnya diatur dengan undang-undang dan norma aristokrat. Keluarga
besar kami hanya mengenal pergaulan dengan kalangan aristokrat atau
kalangan high class yang sepadan !

Entah kenapa saya merasa tidak puas dengan cara hidup seperti ini. Saya
merasa terkukung dan terbelenggu dengan strata sosial yang
didewa-dewakan keluarga. Saya tidak merasakan benar hidup yang saya
cari. Saya lebih merasa hidup justru saat bergaul dengan teman-teman
dari kalangan bawah yang menghadapi hidup dengan penuh rintangan dan
perjuangan. Hal ini ternyata membuat gusar keluarga saya, mereka
menganggap saya ceroboh dan tidak bisa menjaga status sosial keluarga.
Pergaulan saya dengan orang yang selalu basah keringat dalam mencari
pengganjal perut dianggap memalukan keluarga. Namun saya tidak peduli.

Karena ayah memperoleh warisan yang sangat besar dari kakek, dan ibu
mampu mengembangkannya dengan berlipat ganda, maka kami hidup mewah
dengan selera tinggi. Jika musim panas tiba, kami biasa berlibur ke
luar negri, ke Paris, Roma, Sydney atau kota besar dunia lainnya. Jika
berlibur di dalam negeri ke Alexandria misalnya, maka pilihan keluarga
kami adalah hotel San Stefano atau hotel mewah di Montaza yang
berdekatan dengan istana Raja Faruq.

Begitu masuk Fakultas Kedokteran, saya dibelikan mobil mewah.
Berkali-kali saya minta pada ayah untuk menggantikannya dengan mobil
biasa saja, agar lebih enak bergaul dengan teman-teman dan para dosen.
Tetapi beliau menolak mentah-mentah.

"Justru dengan mobil mewah itu kamu akan dihormati siapa saja" tegas ayah.

Terpaksa saya pakai mobil itu meskipun dalam hati saya membantah
habis-habisan pendapat materialis ayah. Dan agar lebih nyaman di hati,
saya parkir mobil itu agak jauh dari tempat kuliah.

Ketika itu saya jatuh cinta pada teman kuliah. Seorang gadis yang penuh
pesona lahir batin. Saya tertarik dengan kesederhanaan, kesahajaan, dan
kemuliaan ahlaknya. Dari keteduhan wajahnya saya menangkap dalam relung
hatinya tersimpan kesetiaan dan kelembutan tiada tara. Kecantikan dan
kecerdasannya sangat menakjubkan. Ia gadis yang beradab dan
berprestasi, sama seperti saya.

Gayung pun bersambut. Dia ternyata juga mencintai saya. Saya merasa
telah menemukan pasangan hidup yang tepat. Kami berjanji untuk
menempatkan cinta ini dalam ikatan suci yang diridhai Allah, yaitu
ikatan Pernikahan. Akhirnya kami berdua lulus dengan nilai tertinggi di
fakultas. Maka datanglah saat untuk mewujudkan impian kami berdua
menjadi kenyataan. Kami ingin memadu cinta penuh bahagia di jalan yang
lurus.

Saya buka keinginan saya untuk melamar dan menikahi gadis pujaan hati
pada keluarga. Saya ajak dia berkunjung ke rumah. Ayah, ibu, dan
saudara-saudara saya semuanya takjub dengan kecantikan, kelembutan, dan
kecerdasannya. Ibu saya memuji cita rasanya dalam memilih warna pakaian
serta tutur bahasanya yang halus.

Usai kunjungan itu, ayah bertanya tentang pekerjaan ayahnya. Begitu
saya beritahu, serta merta meledaklah badai kemarahan ayah dan
membanting gelas yang ada di dekatnya. Bahkan beliau mengultimatum:
Pernikahan ini tidak boleh terjadi selamanya!

Beliau menegaskan bahwa selama beliau masih hidup rencana pernikahan
dengan gadis berakhlak mulia itu tidak boleh terjadi. Pembuluh otak
saya nyaris pecah pada saat itu menahan remuk redam kepedihan batin
yang tak terkira.

Hadirin semua, apakah anda tahu sebabnya? Kenapa ayah saya berlaku
sedemikian sadis…?. Sebabnya, karena ayah calon istri saya itu tukang
cukur….tukang cukur, ya… sekali lagi tukang cukur! Saya katakan
dengan bangga. Karena, meski hanya tukang cukur, dia seorang lelaki
sejati. Seorang pekerja keras yang telah menunaikan kewajibannya dengan
baik kepada keluarganya. Dia telah mengukir satu prestasi yang tak
banyak dilakukan para bangsawan "Pasha". Lewat tangannya ia lahirkan
tiga dokter, seorang insinyur dan seorang letnan, meskipun dia sama
sekali tidak mengecap bangku pendidikan.

Ibu, saudara dan semua keluarga berpihak kepada ayah. Saya berdiri
sendiri, tidak ada yang membela. Pada saat yang sama adik saya membawa
pacarnya yang telah hamil 2 bulan ke rumah. Minta direstui. Ayah ibu
langsung merestui dan menyiapkan biaya pesta pernikahannya sebesar 500
ribu ponds. Saya protes kepada mereka, kenapa ada perlakuan tidak adil
seperti ini? Kenapa saya yang ingin bercinta di jalan yang lurus tidak
direstui, sedangkan adik saya yang jelas-jelas telah berzina,
bergonta-ganti pacar dan akhirnya menghamili pacarnya yang entah yang
ke berapa di luar akad nikah malah direstui dan diberi fasilitas maha
besar?

Dengan enteng ayah menjawab. "Karena kamu memilih pasangan hidup dari
strata yang salah dan akan menurunkan martabat keluarga, sedangkan
pacar adik kamu yang hamil itu anak menteri, dia akan menaikkan
martabat keluarga besar Al Ganzouri."

Hadirin semua, semakin perih luka dalam hati saya. Kalau dia bukan ayah
saya, tentu sudah saya maki habis-habisan. Mungkin itulah tanda kiamat
sudah dekat, yang ingin hidup bersih dengan menikah dihalangi, namun
yang jelas berzina justru difasilitasi.

Dengan menyebut asma Allah, saya putuskan untuk membela cinta dan hidup
saya. Saya ingin buktikan pada siapa saja, bahwa cara dan pasangan
bercinta pilihan saya adalah benar. Saya tidak ingin apa-apa selain
menikah dan hidup baik-baik sesuai dengan tuntunan suci yang saya
yakini kebenarannya. Itu saja.

Saya bawa kaki ini melangkah ke rumah kasih dan saya temui ayahnya.
Dengan penuh kejujuran saya jelaskan apa yang sebenarnya terjadi,
dengan harapan beliau berlaku bijak merestui rencana saya. Namun, la
haula wala quwwata illa billah, saya dikejutkan oleh sikap beliau
setelah mengetahui penolakan keluarga saya. Beliaupun menolak
mentah-mentah untuk mengawinkan putrinya dengan saya. Ternyata beliau
menjawabnya dengan reaksi lebih keras, beliau tidak menganggapnya
sebagai anak jika tetap nekad menikah dengan saya.

Kami berdua bingung, jiwa kami tersiksa. Keluarga saya menolak
pernikahan ini terjadi karena alasan status sosial , sedangkan keluarga
dia menolak karena alasan membela kehormatan.

Berhari-hari saya dan dia hidup berlinang air mata, beratap dan bertanya kenapa orang-orang itu tidak memiliki kesejukan cinta?

Setelah berpikir panjang, akhirnya saya putuskan untuk mengakhiri
penderitaan ini. Suatu hari saya ajak gadis yang saya cintai itu ke
kantor ma’dzun syari (petugas pencatat nikah) disertai 3 orang sahabat
karibku. Kami berikan identitas kami dan kami minta ma’dzun untuk
melaksanakan akad nikah kami secara syari’ah mengikuti mahzab imam
Hanafi. Ketika Ma’dzun menuntun saya, "Mamduh, ucapkanlah kalimat ini:
Saya terima nikah kamu sesuai dengan sunatullah wa rasulih dan dengan
mahar yang kita sepakati bersama serta dengan memakai mahzab Imam Abu
Hanifah."

Seketika itu bercucuranlah air mata saya, air mata dia dan air mata 3
sahabat saya yang tahu persis detail perjalanan menuju akad nikah itu.
Kami keluar dari kantor itu resmi menjadi suami-isteri yang sah di mata
Allah SWT dan manusia. Saya bisikkan ke istri saya agar menyiapkan
kesabaran lebih, sebab rasanya penderitaan ini belum berakhir.

Seperti yang saya duga, penderitaan itu belum berakhir, akad nikah kami
membuat murka keluarga. Prahara kehidupan menanti di depan mata. Begitu
mencium pernikahan kami, saya diusir oleh ayah dari rumah. Mobil dan
segala fasilitas yang ada disita. Saya pergi dari rumah tanpa membawa
apa-apa. Kecuali tas kumal berisi beberapa potong pakaian dan uang
sebanyak 4 pound saja! Itulah sisa uang yang saya miliki sehabis
membayar ongkos akad nikah di kantor ma’dzun.

Begitu pula dengan istriku, ia pun diusir oleh keluarganya. Lebih
tragis lagi ia hanya membawa tas kecil berisi pakaian dan uang sebanyak
2 pound, tak lebih!. Total kami hanya pegang uang 6 pound atau 2
dolar!!!

Ah, apa yang bisa kami lakukan dengan uang 6 pound? Kami berdua bertemu
di jalan layaknya gelandangan. Saat itu adalah bulan Februari, tepat
pada puncak musim dingin. Kami menggigil, rasa cemas, takut, sedih dan
sengsara campur aduk menjadi satu. Hanya saja saat mata kami yang
berkaca-kaca bertatapan penuh cinta dan jiwa menyatu dalam dekapan
kasih sayang, rasa berdaya dan hidup menjalari sukma kami.

"Habibi, maafkan kanda yang membawamu ke jurang kesengsaraan seperti
ini. Maafkan Kanda!" "Tidak… Kanda tidak salah, langkah yang kanda
tempuh benar. Kita telah berpikir benar dan bercinta dengan benar.
Merekalah yang tidak bisa menghargai kebenaran. Mereka masih diselimuti
cara berpikir anak kecil. Suatu ketika mereka akan tahu bahwa kita
benar dan tindakan mereka salah. Saya tidak menyesal dengan langkah
yang kita tempuh ini. Percayalah, insya Allah, saya akan setia
mendampingi kanda, selama kanda tetap setia membawa dinda ke jalan yang
lurus. Kita akan buktikan kepada mereka bahwa kita bisa hidup dan jaya
dengan keyakinan cinta kita. Suatu ketika saat kita gapai kejayaan itu
kita ulurkan tangan kita dan kita berikan senyum kita pada mereka dan
mereka akan menangis haru. Air mata mereka akan mengalir deras seperti
derasnya air mata derita kita saat ini," jawab isteri saya dengan
terisak dalam pelukan.

Kata-katanya memberikan sugesti luar biasa pada diri saya. Lahirlah
rasa optimisme untuk hidup. Rasa takut dan cemas itu sirna seketika.
Apalagi teringat bahwa satu bulan lagi kami akan diangkat menjadi
dokter. Dan sebagai lulusan terbaik masing-masing dari kami akan
menerima penghargaan dan uang sebanyak 40 pound.

Malam semakin melarut dan hawa dingin semakin menggigit. Kami duduk di
emperan toko berdua sebagai gembel yang tidak punya apa-apa. Dalam
kebekuan, otak kami terus berputar mencari jalan keluar. Tidak mungkin
kami tidur di emperan toko itu. Jalan keluar pun datang juga. Dengan
sisa uang 6 pound itu kami masih bisa meminjam sebuah toko selama 24
jam.

Saya berhasil menghubungi seorang teman yang memberi pinjaman sebanyak
50 pound. Ia bahkan mengantarkan kami mencarikan losmen ala kadarnya
yang murah.

Saat kami berteduh dalam kamar sederhana, segera kami disadarkan
kembali bahwa kami berada di lembah kehidupan yang susah, kami harus
mengarunginya berdua dan tidak ada yang menolong kecuali cinta, kasih
sayang dan perjuangan keras kami berdua serta rahmat Allah SWT.

Kami hidup dalam losmen itu beberapa hari, sampai teman kami berhasil
menemukan rumah kontrakan sederhana di daerah kumuh Syubra Khaimah.
Bagi kaum aristokrat, rumah kontrakan kami mungkin dipandang
sepantasnya adalah untuk kandang binatang kesayangan mereka. Bahkan
rumah binatang kesayangan mereka mungkin lebih bagus dari rumah
kontrakan kami.

Namun bagi kami adalah hadiah dari langit. Apapun bentuk rumah itu,
jika seorang gelandangan tanpa rumah menemukan tempat berteduh ia bagai
mendapat hadiah agung dari langit. Kebetulan yang punya rumah sedang
membutuhkan uang, sehingga dia menerima akad sewa tanpa uang jaminan
dan uang administrasi lainnya. Jadi sewanya tak lebih dari 25 pound
saja untuk 3 bulan.

Betapa bahagianya kami saat itu, segera kami pindah kesana. Lalu kami
pergi membeli perkakas rumah untuk pertama kalinya. Tak lebih dari
sebuah kasur kasar dari kapas, dua bantal, satu meja kayu kecil, dua
kursi dan satu kompor gas sederhana sekali, kipas dan dua cangkir dari
tanah, itu saja… tak lebih.

Dalam hidup bersahaja dan belum dikatakan layak itu, kami merasa tetap
bahagia, karena kami selalu bersama. Adakah di dunia ini kebahagiaan
melebihi pertemuan dua orang yang diikat kuatnya cinta? Hidup bahagia
adalah hidup dengan gairah cinta. Dan kenapakah orang-orang di dunia
merindukan surga di akhirat? Karena di surga Allah menjanjikan cinta.

Ah, saya jadi teringat perkataan Ibnu Qayyim, bahwa nikmatnya
persetubuhan cinta yang dirasa sepasang suami-isteri di dunia adalah
untuk memberikan gambaran setetes nikmat yang disediakan oleh Allah di
surga. Jika percintaan suami-isteri itu nikmat, maka surga jauh lebih
nikmat dari semua itu. Nikmat cinta di surga tidak bisa dibayangkan.
Yang paling nikmat adalah cinta yang diberikan oleh Allah kepada
penghuni surga , saat Allah memperlihatkan wajah-Nya. Dan tidak semua
penghuni surga berhak menikmati indahnya wajah Allah SWT.

Untuk nikmat cinta itu, Allah menurunkan petunjuknya yaitu Al-Qur’an
dan Sunnah Rasul. Yang konsisten mengikuti petunjuk Allah-lah yang
berhak memperoleh segala cinta di surga. Melalui penghayatan cinta ini,
kami menemukan jalan-jalan lurus mendekatkan diri kepada-Nya.

Istri saya jadi rajin membaca Al-Qur’an, lalu memakai jilbab, dan tiada
putus shalat malam. Di awal malam ia menjelma menjadi Rabi’ah Adawiyah
yang larut dalam samudra munajat kepada Tuhan. Pada waktu siang ia
adalah dokter yang penuh pengabdian dan belas kasihan. Ia memang wanita
yang berkarakter dan berkepribadian kuat, ia bertekad untuk hidup
berdua tanpa bantuan siapapun, kecuali Allah SWT. Dia juga seorang
wanita yang pandai mengatur keuangan. Uang sewa sebanyak 25 poud yang
tersisa setelah membayar sewa rumah cukup untuk makan dan transportasi
selama sebulan.

Tetanggga-tetangga kami yang sederhana sangat mencintai kami, dan
kamipun mencintai mereka. Mereka merasa kasihan melihat kemelaratan dan
derita hidup kami, padahal kami berdua adalah dokter. Sampai-sampai ada
yang bilang tanpa disengaja,"Ah, kami kira para dokter itu pasti kaya
semua, ternyata ada juga yang melarat sengsara seperti Mamduh dan
isterinya." Akrabnya pergaulan kami dengan para tetangga banyak
mengurangi nestapa kami. Beberapa kali tetangga kami menawarkan
bantuan-bantuan kecil layaknya saudara sendiri. Ada yang menawarkan
kepada isteri agar menitipkan saja cuciannya pada mesin cuci mereka
karena kami memang dokter yang sibuk. Ada yang membelikan kebutuhan
dokter. Ada yang membantu membersihkan rumah. Saya sangat terkesan
dengan pertolongan- pertolongan mereka.

Kehangatan tetangga itu seolah-olah pengganti kasarnya perlakuan yang
kami terima dari keluarga kami sendiri. Keluarga kami bahkan tidak
terpanggil sama sekali untuk mencari dan mengunjungi kami. Yang lebih
menyakitkan mereka tidak membiarkan kami hidup tenang.

Suatu malam, ketika kami sedang tidur pulas, tiba-tiba rumah kami
digedor dan didobrak oleh 4 bajingan kiriman ayah saya. Mereka merusak
segala perkakas yang ada. Meja kayu satu-satunya, mereka
patah-patahkan, begitu juga dengan kursi. Kasur tempat kami tidur
satu-satunya mereka robek-robek. Mereka mengancam dan memaki kami
dengan kata-kata kasar. Lalu mereka keluar dengan ancaman, "Kalian tak
akan hidup tenang, karena berani menentang Tuan Pasha."

Yang mereka maksudkan dengan Tuan "Pasha" adalah ayah saya yang kala
itu pangkatnya naik menjadi jendral. Ke-empat bajingan itu pergi. Kami
berdua berpelukan, menangis bareng berbagi nestapa dan membangun
kekuatan. Lalu kami tata kembali rumah yang hancur. Kami kumpulkan lagi
kapas-kapas yang berserakan, kami masukan lagi ke dalam kasur dan kami
jahit kasur yang sobek-sobek tak karuan itu. Kami tata lagi buku-buku
yang berantakan. Meja dan kursi yang rusak itu berusaha kami perbaiki.
Lalu kami tertidur kecapaian dengan tangan erat bergenggaman, seolah
eratnya genggaman inilah sumber rasa aman dan kebahagiaan yang
meringankan intimidasi hidup ini.

Benar, firasat saya mengatakan ayah tidak akan membiarkan kami hidup
tenang. Saya mendapat kabar dari seorang teman bahwa ayah telah
merancang skenario keji untuk memenjarakan isteri saya dengan tuduhan
wanita tuna susila. Semua orang juga tahu kuatnya intelijen militer di
negeri ini. Mereka berhak melaksanakan apa saja dan undang-undang
berada di telapak kaki mereka. Saya hanya bisa pasrah total kepada
Allah mendengar hal itu.

Dan Masya Allah! Ayah telah merancang skenario itu dan tidak
mengurungkan niat jahatnya itu, kecuali setelah seorang teman karibku
berhasil memperdaya beliau dengan bersumpah akan berhasil membujuk saya
agar menceraikan isteri saya. Dan meminta ayah untuk bersabar dan tidak
menjalankan skenario itu , sebab kalau itu terjadi pasti pemberontakan
saya akan menjadi lebih keras dan bisa berbuat lebih nekad.

Tugas temanku itu adalah mengunjungi ayahku setiap pekan sambil meminta
beliau sabar, sampai berhasil meyakinkan saya untuk mencerai isteriku.
Inilah skenario temanku itu untuk terus mengulur waktu, sampai ayah
turun marahnya dan melupakan rencana kejamnya. Sementara saya bisa
mempersiapkan segala sesuatu lebih matang.

Beberapa bulan setelah itu datanglah saat wajib militer. Selama satu
tahun penuh saya menjalani wajib militer. Inilah masa yang saya
takutkan, tidak ada pemasukan sama sekali yang saya terima kecuali 6
pound setiap bulan. Dan saya mesti berpisah dengan belahan jiwa yang
sangat saya cintai. Nyaris selama 1 tahun saya tidak bisa tidur karena
memikirkan keselamatan isteri tercinta.

Tetapi Allah tidak melupakan kami, Dialah yang menjaga keselamatan
hamba-hamba- Nya yang beriman. Isteri saya hidup selamat bahkan dia
mendapatkan kesempatan magang di sebuah klinik kesehatan dekat rumah
kami. Jadi selama satu tahun ini, dia hidup berkecukupan dengan rahmat
Allah SWT.

Selesai wajib militer, saya langsung menumpahkan segenap rasa rindu
kepada kekasih hati. Saat itu adalah musim semi. Musim cinta dan
keindahan. Malam itu saya tatap matanya yang indah, wajahnya yang putih
bersih. Ia tersenyum manis. Saya reguk segala cintanya. Saya teringat
puisi seorang penyair Palestina yang memimpikan hidup bahagia dengan
pendamping setia & lepas dari belenggu derita:

Sambil menatap kaki langit
Kukatakan kepadanya
Di sana… di atas lautan pasir kita akan berbaring
Dan tidur nyenyak sampai subuh tiba
Bukan karna ketiadaan kata-kata
Tapi karena kupu-kupu kelelahan
Akan tidur di atas bibir kita
Besok, oh cintaku… besok
Kita akan bangun pagi sekali
Dengan para pelaut dan perahu layar mereka
Dan akan terbang bersama angin
Seperti burung-burung

Yah… saya pun memimpikan demikian. Ingin rasanya istirahat dari
nestapa dan derita. Saya utarakan mimpi itu kepada istri tercinta.
Namun dia ternyata punya pandangan lain. Dia malah bersih keras untuk
masuk program Magister bersama!

"Gila… ide gila!!!" pikirku saat itu. Bagaimana tidak…ini adalah
saat paling tepat untuk pergi meninggalkan Mesir dan mencari pekerjaan
sebagai dokter di negara Teluk, demi menjauhi permusuhan keluarga yang
tidak berperasaan. Tetapi istri saya tetap bersikukuh untuk meraih
gelar Magister dan menjawab logika yang saya tolak:

"Kita berdua paling berprestasi dalam angkatan kita dan mendapat
tawaran dari Fakultas sehingga akan mendapatkan keringanan biaya, kita
harus sabar sebentar menahan derita untuk meraih keabadian cinta dalam
kebahagiaan. Kita sudah kepalang basah menderita, kenapa tidak sekalian
kita rengguk sum-sum penderitaan ini. Kita sempurnakan prestasi
akademis kita, dan kita wujudkan mimpi indah kita."

Ia begitu tegas. Matanya yang indah tidak membiaskan keraguan atau
ketakutan sama sekali. Berhadapan dengan tekad baja istriku, hatiku pun
luluh. Kupenuhi ajakannya dengan perasaan takjub akan kesabaran dan
kekuatan jiwanya.

Jadilah kami berdua masuk Program Magister. Dan mulailah kami memasuki
hidup baru yang lebih menderita. Pemasukan pas-pasan, sementara
kebutuhan kuliah luar biasa banyaknya, dana untuk praktek, buku, dll.
Nyaris kami hidup laksana kaum Sufi, makan hanya dengan roti dan air.
Hari-hari yang kami lalui lebih berat dari hari-hari awal pernikahan
kami. Malam hari kami lalui bersama dengan perut kosong, teman setia
kami adalah air keran.

Masih terekam dalam memori saya, bagaimana kami belajar bersama dalam
suatu malam sampai didera rasa lapar yang tak terperikan, kami obati
dengan air. Yang terjadi malah kami muntah-muntah. Terpaksa uang untuk
beli buku kami ambil untuk pengganjal perut.

Siang hari, jangan tanya… kami terpaksa puasa. Dari keterpaksaan itu, terjelmalah kebiasaan dan keikhlasan.

Meski demikian melaratnya, kami merasa bahagia. Kami tidak pernah
menyesal atau mengeluh sedikitpun. Tidak pernah saya melihat istri saya
mengeluh, menagis dan sedih ataupun marah karena suatu sebab. Kalaupun
dia menangis, itu bukan karena menyesali nasibnya, tetapi dia malah
lebih kasihan kepada saya. Dia kasihan melihat keadaan saya yang
asalnya terbiasa hidup mewah, tiba-tiba harus hidup sengsara layaknya
gelandangan.

Sebaliknya, sayapun merasa kasihan melihat keadaannya, dia yang asalnya
hidup nyaman dengan keluarganya, harus hidup menderita di rumah
kontrakan yang kumuh dan makan ala kadarnya.

Timbal balik perasaan ini ternya menciptakan suasana mawaddah yang luar
biasa kuatnya dalam diri kami. Saya tidak bisa lagi melukiskan rasa
sayang, hormat, dan cinta yang mendalam padanya.

Setiap kali saya angkat kepala dari buku, yang tampak di depan saya
adalah wajah istri saya yang lagi serius belajar. Kutatap wajahnya
dalam-dalam. Saya kagum pada bidadari saya ini. Merasa diperhatikan,
dia akan mengangkat pandangannya dari buku dan menatap saya penuh cinta
dengan senyumnya yang khas. Jika sudah demikian, penderitaan terlupakan
semua. Rasanya kamilah orang yang paling berbahagia di dunia ini.

"Allah menyertai orang-orang yang sabar, sayang…" bisiknya mesra sambil tersenyum.

Lalu kami teruskan belajar dengan semangat membara.

Allah Maha Penyayang, usaha kami tidak sia-sia. Kami berdua meraih
gelar Magister dengan waktu tercepat di Mesir. Hanya 2 tahun saja!
Namun, kami belum keluar dari derita. Setelah meraih gelar Magister pun
kami masih hidup susah, tidur di atas kasur tipis dan tidak ada istilah
makan enak dalam hidup kami.

Sampai akhirnya rahmat Allah datang juga. Setelah usaha keras, kami
berhasil meneken kontrak kerja di sebuah rumah sakit di Kuwait. Dan
untuk pertama kalinya, setelah 5 tahun berselimut derita dan duka, kami
mengenal hidup layak dan tenang. Kami hidup di rumah yang mewah,
merasakan kembali tidur di kasur empuk dan kembali mengenal masakan
lezat.

Dua tahun setelah itu, kami dapat membeli villa berlantai dua di
Heliopolis, Kairo. Sebenarnya, saya rindu untuk kembali ke Mesir
setelah memiliki rumah yang layak. Tetapi istriku memang ‘edan’. Ia
kembali mengeluarkan ide gila, yaitu ide untuk melanjutkan program
Doktor Spesialis di London, juga dengan logika yang sulit saya tolak:

"Kita dokter yang berprestasi. Hari-hari penuh derita telah kita lalui,
dan kita kini memiliki uang yang cukup untuk mengambil gelar Doktor di
London. Setelah bertahun-tahun hidup di lorong kumuh, tak ada salahnya
kita raih sekalian jenjang akademis tertinggi sambil merasakan hidup di
negara maju. Apalagi pihak rumah sakit telah menyediakan dana tambahan."

Kucium kening istriku, dan bismillah… kami berangkat ke London.
Singkatnya, dengan rahmat Allah, kami berdua berhasil menggondol gelar
Doktor dari London. Saya spesialis syaraf dan istri saya spesialis
jantung.

Setelah memperoleh gelar doktor spesialis, kami meneken kontrak kerja
baru di Kuwait dengan gaji luar biasa besarnya. Bahkan saya diangkat
sebagai direktur rumah sakit, dan istri saya sebagai wakilnya! Kami
juga mengajar di Universitas.

Kami pun dikaruniai seorang putri yang cantik dan cerdas. Saya namai
dia dengan nama istri terkasih, belahan jiwa yang menemaniku dalam suka
dan duka, yang tiada henti mengilhamkan kebajikan.

Lima tahun setelah itu, kami pindah kembali ke Kairo setelah sebelumnya
menunaikan ibadah haji di Tanah Haram. Kami kembali laksana raja dan
permaisurinya yang pulang dari lawatan keliling dunia. Kini kami hidup
bahagia, penuh cinta dan kedamaian setelah lebih dari 9 tahun hidup
menderita, melarat dan sengsara.

Mengenang masa lalu, maka bertambahlah rasa syukur kami kepada Allah SWT dan bertambahlan rasa cinta kami.

Ini kisah nyata yang saya sampaikan sebagai nasehat hidup. Jika hadirin
sekalian ingin tahu istri saleha yang saya cintai dan mencurahkan
cintanya dengan tulus, tanpa pernah surut sejak pertemuan pertama
sampai saat ini, di kala suka dan duka, maka lihatlah wanita berjilbab
biru yang menunduk di barisan depan kaum ibu, tepat di sebelah kiri
artis berjilbab Huda Sulthan. Dialah istri saya tercinta yang
mengajarkan bahwa penderitaan bisa mengekalkan cinta. Dialah Prof Dr
Shiddiqa binti Abdul Aziz…"

Tepuk tangan bergemuruh mengiringi gerak kamera video menyorot sosok
perempuan separoh baya yang tampak anggun dengan jilbab biru. Perempuan
itu tengah mengusap kucuran air matanya. Kamera juga merekam mata Huda
Sulthan yang berkaca-kaca, lelehan air mata haru kedua mempelai, dan
segenap hadirin yang menghayati cerita ini dengan seksama.

Sumber : " Di atas Sajadah Cinta " oleh Habiburrahman El-Shirazy
http://www.usahamulia.net/?pilih=lihat&id=46&PHPSESSID=078adcab1e8155f3c23ec60b42ff800f

Pudarnya Pesona Cleopatra

July 7th, 2007 by hoshiicaq

             

             

               

             

             

               

             

             

               
Pudarnya Pesona Cleopatra   
Toek para suami, Yakinlah… istrimu selalu berusaha membahagiakanmu…

 
               
   
    

Dengan
panjang lebar ibu menjelaskan, sebenarnya sejak ada dalan kandungan aku
telah dijodohkan dengan Raihana yang tak pernah kukenal." Ibunya
Raihana adalah teman karib ibu waktu nyantri di pesantren Mangkuyudan
Solo dulu"
       kata   ibu.
      
"Kami pernah berjanji,
jika dikarunia anak berlainan jenis akan besanan untuk memperteguh tali
persaudaraan. Karena itu ibu mohon keikhlasanmu" , ucap beliau dengan
nada mengiba.
   
Dalam pergulatan jiwa yang sulit berhari-hari,
akhirnya aku pasrah. Aku menuruti keinginan ibu. Aku tak mau
mengecewakan ibu. Aku ingin menjadi mentari pagi dihatinya, meskipun
untuk itu aku harus mengorbankan diriku.
   
Dengan hati pahit
kuserahkan semuanya bulat-bulat pada ibu. Meskipun sesungguhnya dalam
hatiku timbul kecemasan-kecemasan yang datang begitu saja dan tidak
tahu alasannya. Yang jelas aku sudah punya kriteria dan impian
tersendiri untuk calon istriku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa
berhadapan dengan air mata ibu yang amat kucintai. Saat khitbah
(lamaran) sekilas kutatap wajah Raihana, benar kata Aida adikku, ia
memang baby face dan anggun.
   
   Namun garis-garis kecantikan yang kuinginkan   tak kutemukan sama sekali.
Adikku, tante Lia mengakui Raihana cantik, "cantiknya alami, bisa jadi
bintang iklan Lux lho, asli ! kata tante Lia. Tapi penilaianku lain,
mungkin karena aku begitu hanyut dengan gadis-gadis Mesir titisan
Cleopatra, yang tinggi semampai, wajahnya putih jelita, dengan hidung
melengkung indah, mata bulat bening khas arab, dan bibir yang merah. Di
hari-hari menjelang pernikahanku, aku berusaha menumbuhkan bibit-bibit
cintaku untuk calon istriku, tetapi usahaku selalu sia-sia.
   
Aku ingin memberontak pada ibuku, tetapi wajah teduhnya meluluhkanku.
Hari pernikahan datang. Duduk dipelaminan bagai mayat hidup, hati hampa
tanpa cinta, Pestapun meriah dengan emapt group rebana. Lantunan
shalawat Nabipun terasa menusuk-nusuk hati. Kulihat Raihana tersenyum
manis, tetapi hatiku terasa teriris-iris dan jiwaku meronta.
Satu-satunya harapanku adalah mendapat berkah dari Allah SWT atas
baktiku pada ibuku yang kucintai.
   Rabbighfir li wa liwalidayya!
   
Layaknya pengantin baru, kupaksakan untuk mesra tapi bukan cinta, hanya
sekedar karena aku seorang manusia yang terbiasa membaca ayat-ayatNya.
Raihana tersenyum mengembang, hatiku menangisi kebohonganku dan
kepura-puraanku. Tepat dua bulan Raihana kubawa ke kontrakan dipinggir
kota Malang.
   
Mulailah kehidupan hampa. Aku tak menemukan
adanya gairah. Betapa susah hidup berkeluarga tanpa cinta. Makan,
minum, tidur, dan shalat bersama dengan makhluk yang bernama Raihana,
istriku, tapi Masya Allah bibit cintaku belum juga tumbuh. Suaranya
yang lembut terasa hambar, wajahnya yang teduh tetap terasa asing.
Memasuki bulan keempat, rasa muak hidup bersama Raihana mulai
kurasakan, rasa ini muncul begitu saja. Aku mencoba membuang jauh-jauh
rasa tidak baik ini, apalagi pada istri sendiri yang seharusnya
kusayang dan kucintai. Sikapku pada Raihana mulai lain. Aku lebih
banyak diam, acuh tak acuh, agak sinis, dan tidur pun lebih banyak di
ruang tamu atau ruang kerja.

    

Aku merasa hidupku ada lah sia-sia, belajar di luar negeri   sia-sia, pernikahanku sia-sia, keberadaanku sia-sia.
      
Tidak hanya aku yang tersiksa, Raihanapun merasakan hal yang sama,
karena ia orang yang berpendidikan, maka diapun tanya, tetapi kujawab "
tidak apa-apa koq mbak, mungkin aku belum dewasa, mungkin masih harus
belajar berumah tangga" Ada kekagetan yang kutangkap diwajah Raihana
ketika kupanggil ‘mbak’, " kenapa mas memanggilku mbak, aku kan
istrimu, apa mas sudah tidak mencintaiku" tanyanya dengan guratan wajah
yang sedih. "wallahu a’lam" jawabku sekenanya. Dengan mata berkaca-kaca
Raihana diam menunduk, tak lama kemudian dia terisak-isak sambil
memeluk kakiku, "Kalau mas tidak mencintaiku, tidak menerimaku sebagai
istri kenapa mas ucapkan akad nikah?
      
Kalau dalam
tingkahku melayani mas masih ada yang kurang berkenan, kenapa mas tidak
bilang dan menegurnya, kenapa mas diam saja, aku harus bersikap
bagaimana untuk membahagiakan mas, kumohon bukalah sedikit hatimu untuk
menjadi ruang bagi pengabdianku, bagi menyempurnakan ibadahku didunia
ini". Raihana mengiba penuh pasrah. Aku menangis menitikan air mata
buka karena Raihana tetapi karena kepatunganku. Hari terus berjalan,
tetapi komunikasi kami tidak berjalan. Kami hidup seperti orang asing
tetapi Raihana tetap melayaniku menyiapkan segalanya untukku.
      
Suatu sore aku pulang mengajar dan kehujanan, sampai dirumah habis
maghrib, bibirku pucat, perutku belum kemasukkan apa-apa kecuali
segelas kopi buatan Raihana tadi pagi, Memang aku berangkat pagi karena
ada janji dengan teman. Raihana memandangiku dengan khawatir. "Mas
tidak apa-apa" tanyanya dengan perasaan kuatir. "Mas mandi dengan air
panas saja, aku sedang menggodoknya, lima menit lagi mendidih"
lanjutnya. Aku melepas semua pakaian yang basah. "Mas airnya sudah
siap" kata Raihana. Aku tak bicara sepatah katapun, aku langsung ke
kamar mandi, aku lupa membawa handuk, tetapi Raihana telah berdiri
didepan pintu membawa handuk. "Mas aku buatkan wedang jahe" Aku diam
saja. Aku merasa mulas dan mual dalam perutku tak bisa kutahan.

    

Dengan
cepat aku berlari ke kamar mandi dan Raihana mengejarku dan
memijit-mijit pundak dan tengkukku seperti yang dilakukan ibu. " Mas
masuk angin. Biasanya kalau masuk angin diobati pakai apa, pakai
balsam, minyak putih, atau jamu?" Tanya Raihana sambil menuntunku ke
kamar. "Mas jangan diam saja dong, aku kan tidak tahu apa yang harus
kulakukan untuk membantu Mas". " Biasanya dikerokin" jawabku lirih. "
Kalau begitu kaos mas dilepas ya, biar Hana kerokin" sahut Raihana
sambil tangannya melepas kaosku. Aku seperti anak kecil yang dimanja
ibunya. Raihana dengan sabar mengerokin punggungku dengan sentuhan
tangannya yang halus. Setelah selesai dikerokin, Raihana membawakanku
semangkok bubur kacang hijau. Setelah itu aku merebahkan diri di tempat
tidur. Kulihat Raihana duduk di kursi tak jauh dari tempat tidur sambil
menghafal Al Quran dengan khusyu. Aku kembali sedih dan ingin menangis,
Raihana manis tapi tak semanis gadis-gadis mesir titisan Cleopatra.
      
Dalam tidur aku bermimpi bertemu dengan Cleopatra, ia mengundangku
untuk makan malam di istananya." Aku punya keponakan namanya Mona Zaki,
nanti akan aku perkenalkan denganmu" kata Ratu Cleopatra. " Dia
memintaku untuk mencarikannya seorang pangeran, aku melihatmu cocok dan
berniat memperkenalkannya denganmu". Aku mempersiapkan segalanya. Tepat
puku 07.00 aku datang ke istana, kulihat Mona Zaki dengan pakaian
pengantinnya, cantik sekali. Sang ratu mempersilakan aku duduk di kursi
yang berhias berlian.
      
Aku melangkah maju, belum sempat
duduk, tiba-tiba " Mas, bangun, sudah jam setengah empat, mas belum
sholat Isya" kata Raihana membangunkanku. Aku terbangun dengan perasaan
kecewa. " Maafkan aku Mas, membuat Mas kurang suka, tetapi Mas belum
sholat Isya" lirih Hana sambil melepas mukenanya, mungkin dia baru
selesai sholat malam. Meskipun cuman mimpi tapi itu indah sekali, tapi
sayang terputus. Aku jadi semakin tidak suka sama dia, dialah pemutus
harapanku dan mimpi-mimpiku. Tapi apakah dia bersalah, bukankah dia
berbuat baik membangunkanku untuk sholat Isya.

    

Selanjutnya
aku merasa sulit hidup bersama Raihana, aku tidak tahu dari mana
sulitnya. Rasa tidak suka semakin menjadi-jadi. Aku benar-benar
terpenjara dalam suasana konyol. Aku belum bisa menyukai Raihana. Aku
sendiri belum pernah jatuh cinta, entah kenapa bisa dijajah pesona
gadis-gadis titisan Cleopatra.
      
" Mas, nanti sore ada
acara qiqah di rumah Yu Imah. Semua keluarga akan datang termasuk
ibundamu. Kita diundang juga. Yuk, kita datang bareng, tidak enak kalau
kita yang dieluk-elukan keluarga tidak datang" Suara lembut Raihana
menyadarkan pengembaraanku pada Jaman Ibnu Hazm. Pelan-pelan ia
letakkan nampan yang berisi onde-onde kesukaanku dan segelas wedang
jahe.

    

Tangannya yang halus agak gemetar. Aku dingin-dingin
saja. " Maaf..maaf jika mengganggu Mas, maafkan Hana," lirihnya, lalu
perlahan-lahan beranjak meninggalkan aku di ruang kerja. " Mbak! Eh
maaf, maksudku D..Din..Dinda Hana!, panggilku dengan suara parau
tercekak dalam tenggorokan. " Ya Mas!"
sahut Hana langsung
menghentikan langkahnya dan pelan-pelan menghadapkan dirinya padaku. Ia
berusaha untuk tersenyum, agaknya ia bahagia dipanggil "dinda". "
Matanya sedikit berbinar. "Te..terima kasih Di..dinda, kita berangkat
bareng kesana, habis sholat dhuhur, insya Allah," ucapku sambil menatap
wajah Hana dengan senyum yang kupaksakan.
      
Raihana
menatapku dengan wajah sangat cerah, ada secercah senyum bersinar
dibibirnya. " Terima kasih Mas, Ibu kita pasti senang, mau pakai baju
yang mana Mas, biar dinda siapkan? Atau biar dinda saja yang memilihkan
ya?".
       Hana begitu   bahagia.
      
Perempuan
berjilbab ini memang luar biasa, Ia tetap sabar mencurahkan bakti
meskipun aku dingin dan acuh tak acuh padanya selama ini. Aku belum
pernah melihatnya memasang wajah masam atau tidak suka padaku. Kalau
wajah sedihnya ya. Tapi wajah tidak sukanya belum pernah. Bah, lelaki
macam apa aku ini, kutukku pada diriku sendiri. Aku memaki-maki diriku
sendiri atas sikap dinginku selama ini., Tapi, setetes embun cinta yang
kuharapkan membasahi hatiku tak juga turun. Kecantikan aura titisan
Cleopatra itu? Bagaimana aku mengusirnya. Aku merasa menjadi orang yang
paling membenci diriku sendiri di dunia ini.
      
Acara
pengajian dan qiqah putra ketiga Fatimah kakak sulung Raihana membawa
sejarah baru lembaran pernikahan kami. Benar dugaan Raihana, kami
dielu-elukan keluarga, disambut hangat, penuh cinta, dan penuh bangga. "

    

Selamat
datang pengantin baru! Selamat datang pasangan yang paling ideal dalam
keluarga! Sambut Yu Imah disambut tepuk tangan bahagia mertua dan
bundaku serta kerabat yang lain. Wajah Raihana cerah. Matanya
berbinar-binar bahagia. Lain dengan aku, dalam hatiku menangis disebut
pasangan ideal.
      
Apanya yang ideal. Apa karena aku
lulusan Mesir dan Raihana lulusan terbaik dikampusnya dan hafal Al
Quran lantas disebut ideal? Ideal bagiku adalah seperti Ibnu Hazm dan
istrinya, saling memiliki rasa cinta yang sampai pada pengorbanan satu
sama lain. Rasa cinta yang tidak lagi memungkinkan adanya
pengkhianatan. Rasa cinta yang dari detik ke detik meneteskan rasa
bahagia.
      
       Tapi diriku? Aku belum bisa memiliki cinta seperti yang dimiliki   Raihana.
Sambutan sanak saudara pada kami benar-benar hangat. Aku dibuat kaget
oleh sikap Raihana yang begitu kuat menjaga kewibawaanku di mata
keluarga. Pada ibuku dan semuanya tidak pernah diceritakan, kecuali
menyanjung kebaikanku sebagai seorang suami yang dicintainya. Bahkan ia
mengaku bangga dan bahagia menjadi istriku. Aku sendiri dibuat pusing
dengan sikapku. Lebih pusing lagi sikap ibuku dan mertuaku yang
menyindir tentang keturunan. " Sudah satu tahun putra sulungku menikah,
koq belum ada tanda-tandanya ya, padahal aku ingin sekali menimang
cucu" kata ibuku. " Insya Allah tak lama lagi, ibu akan menimang cucu,
doakanlah kami. Bukankah begitu, Mas?" sahut Raihana sambil menyikut
lenganku, aku tergagap dan mengangguk sekenanya.
      
Setelah
peristiwa itu, aku mencoba bersikap bersahabat dengan Raihana. Aku
berpura-pura kembali mesra dengannya, sebagai suami betulan. Jujur, aku
hanya pura-pura. Sebab bukan atas dasar cinta, dan bukan kehendakku
sendiri aku melakukannya, ini semua demi ibuku. Allah Maha Kuasa.
Kepura-puraanku memuliakan Raihana sebagai seorang istri. Raihana
hamil. Ia semakin manis.
      
Keluarga bersuka cita semua.
Namun hatiku menangis karena cinta tak kunjung tiba. Tuhan kasihanilah
hamba, datangkanlah cinta itu segera. Sejak itu aku semakin sedih
sehingga Raihana yang sedang hamil tidak kuperhatikan lagi. Setiap saat
nuraniku bertanya" Mana tanggung jawabmu!" Aku hanya diam dan mendesah
sedih. " Entahlah, betapa sulit aku menemukan cinta" gumamku.
      
Dan akhirnya datanglah hari itu, usia kehamilan Raihana memasuki bulan
ke enam. Raihana minta ijin untuk tinggal bersama orang tuanya dengan
alasan kesehatan. Kukabulkan permintaanya dan kuantarkan dia
kerumahnya. Karena rumah mertua jauh dari kampus tempat aku mengajar,
mertuaku tak menaruh curiga ketika aku harus tetap tinggal dikontrakan.
Ketika aku pamitan, Raihana berpesan, " Mas untuk menambah biaya
kelahiran anak kita, tolong nanti cairkan tabunganku yang ada di ATM.
Aku taruh dibawah bantal, no.pinnya sama dengan tanggal pernikahan
kita".
      
Setelah Raihana tinggal bersama ibunya, aku
sedikit lega. Setiap hari Aku tidak bertemu dengan orang yang membuatku
tidak nyaman. Entah apa sebabnya bisa demikian. Hanya saja aku sedikit
repot, harus menyiapkan segalanya.
       Tapi toh bukan   masalah bagiku, karena aku sudah terbiasa saat kuliah di Mesir.
      
Waktu terus berjalan, dan aku merasa enjoy tanpa Raihana. Suatu saat
aku pulang kehujanan. Sampai rumah hari sudah petang, aku merasa
tubuhku benar-benar lemas. Aku muntah-muntah, menggigil, kepala pusing
dan perut mual. Saat itu terlintas dihati andaikan ada Raihana, dia
pasti telah menyiapkan air panas, bubur kacang hijau, membantu
mengobati masuk angin dengan mengeroki punggungku, lalu menyuruhku
istirahat dan menutupi tubuhku dengan selimut. Malam itu aku
benar-benar tersiksa dan menderita. Aku terbangun jam enam pagi. Badan
sudah segar. Tapi ada penyesalan dalam hati, aku belum sholat Isya dan
terlambat sholat subuh. Baru sedikit terasa, andaikan ada Raihana tentu
aku ngak meninggalkan sholat Isya, dan tidak terlambat sholat subuh.
      
Lintasan Raihana hilang seiring keberangkatan mengajar di kampus.
Apalagi aku mendapat tugas dari universitas untuk mengikuti pelatihan
mutu dosen mata kuliah bahasa arab. Diantaranya tutornya adalah
professor bahasa arab dari Mesir. Aku jadi banyak berbincang dengan
beliau tentang mesir. Dalam pelatihan aku juga berkenalan dengan Pak
Qalyubi, seorang dosen bahasa arab dari Medan. Dia menempuh S1-nya di
Mesir. Dia menceritakan satu pengalaman hidup yang menurutnya pahit dan
terlanjur dijalani. "Apakah kamu sudah menikah?" kata Pak Qalyubi.
"Alhamdulillah, sudah" jawabku. " Dengan orang mana?. " Orang Jawa". "
Pasti orang yang baik ya. Iya kan? Biasanya pulang dari Mesir banyak
saudara yang menawarkan untuk menikah dengan perempuan shalehah. Paling
tidak santriwati, lulusan pesantren. Istrimu dari pesantren?". "Pernah,
alhamdulillah dia sarjana dan hafal Al Quran". " Kau sangat beruntung,
tidak sepertiku". " Kenapa dengan Bapak?" " Aku melakukan langkah yang
salah, seandainya aku tidak menikah dengan orang Mesir itu, tentu
batinku tidak merana seperti sekarang". " Bagaimana itu bisa terjadi?".
"
      
Kamu tentu tahu kan gadis Mesir itu cantik-cantik,
dank arena terpesona dengan kecantikanya saya menderita seperti ini.
Ceritanya begini, Saya seorang anak tunggal dari seorang yang kaya,
saya berangkat ke Mesir dengan biaya orang tua. Disana saya bersama
kakak kelas namanya Fadhil, orang Medan juga. Seiring dengan
berjalannya waktu, tahun pertama saya lulus dengan predkat jayyid,
predikat yang cukup sulit bagi pelajar dari Indonesia.
      
Demikian juga dengan tahun kedua. Karena prestasi saya, tuan rumah
tempat saya tinggal menyukai saya. Saya dikenalkan dengan anak gadisnya
yang bernama Yasmin. Dia tidak pakai jilbab. Pada pandangan pertama
saya jatuh cinta, saya belum pernah melihat gadis secantuk itu. Saya
bersumpah tidak akan menikaha dengan siapapun kecuali dia. Ternyata
perasaan saya tidak bertepuk sebelah tangan. Kisah cinta saya didengar
oleh Fadhil. Fadhil membuat garis tegas, akhiri hubungan dengan anak
tuan rumah itu atau sekalian lanjutkan dengan menikahinya. Saya memilih
yang kedua.
      
Ketika saya menikahi Yasmin, banyak
teman-teman yang memberi masukan begini, sama-sama menikah dengan gadis
Mesir, kenapa tidak mencari mahasiswi Al Azhar yang hafal Al Quran,
salehah, dan berjilbab. Itu lebih selamat dari pada dengan YAsmin yang
awam pengetahuan agamanya. Tetpai saya tetap teguh untuk menikahinya.
Dengan biaya yang tinggi saya berhasil menikahi YAsmin.
       Yasmin menuntut diberi sesuatu yang lebih dari   gadis Mesir.
      
Perabot rumah yang mewah, menginap di hotel berbintang. Begitu selesai
S1 saya kembali ke Medan, saya minta agar asset yang di Mesir dijual
untuk modal di Indonesia. KAmi langsung membeli rumah yang cukup mewah
di kota Medan. Tahun-tahun pertama hidup kami berjalan baik, setiap
tahunnya Yasmin mengajak ke Mesir menengok orang tuanya. Aku masih bisa
memenuhi semua yang diinginkan YAsmin. Hidup terus berjalan, biaya
hidup semakin nambah, anak kami yang ketiga lahir, tetapi pemasukan
tidak bertambah. Saya minta YAsmin untuk berhemat. Tidak setiap tahun
tetapi tiga tahun sekali YAsmin tidak bisa.
      
       Aku mati-matian berbisnis, demi keinginan Yasmin dan anak-anak   terpenuhi.
Sawah terakhir milik Ayah saya jual untuk modal. Dalam diri saya mulai
muncul penyesalan. Setiap kali saya melihat teman-teman alumni Mesir
yang hidup dengan tenang dan damai dengan istrinya. Bisa mengamalkan
ilmu dan bisa berdakwah dengan baik. Dicintai masyarakat. Saya tidak
mendapatkan apa yang mereka dapatkan. Jika saya pengin rending, saya
harus ke warung. YAsmin tidak mau tahu dengan masakan Indonesia.
      
       Kau tahu sendiri, gadis Mesir biasanya   memanggil suaminya dengan namanya.
Jika ada sedikit letupan, maka rumah seperti neraka. Puncak penderitaan
saya dimulai setahun yang lalu. Usaha saya bangkrut, saya minta YAsmin
untuk menjual perhiasannya, tetapi dia tidak mau. Dia malah
membandingkan dirinya yang hidup serba kurang dengan sepupunya.
Sepupunya mendapat suami orang Mesir.
      
Saya menyesal
meletakkan kecantikan diatas segalanya. Saya telah diperbudak dengan
kecantikannya. Mengetahui keadaan saya yang terjepit, ayah dan ibu
mengalah. Mereka menjual rumah dan tanah, yang akhirnya mereka tinggal
di ruko yang kecil dan sempit. Batin saya menangis. Mereka berharap
modal itu cukup untuk merintis bisnis saya yang bangkrut. Bisnis saya
mulai bangkit, Yasmin mulai berulah, dia mengajak ke Mesir. Waktu di
Mesir itulah puncak tragedy yang menyakitkan. " Aku menyesal menikah
dengan orang Indonesia, aku minta kau ceraikan aku, aku tidak bisa
bahagia kecuali dengan lelaki Mesir".
Kata Yasmin yang bagaikan
geledek menyambar. Lalu tanpa dosa dia bercerita bahwa tadi di KBRI dia
bertemu dengan temannya. Teman lamanya itu sudah jadi bisnisman, dan
istrinya sudah meninggal.
      
Yasmin diajak makan siang, dan
dilanjutkan dengan perselingkuhan. Aku pukul dia karena tak bisa
menahan diri. Atas tindakan itu saya dilaporkan ke polisi. Yang
menyakitkan adalah tak satupun keluarganya yang membelaku.
       Rupanya selama ini Yasmin   sering mengirim surat yang berisi berita bohong.
Sejak saat itu saya mengalami depresi. Dua bulan yang lalu saya
mendapat surat cerai dari Mesir sekaligus mendapat salinan surat nikah
Yasmin dengan temannya. Hati saya sangat sakit, ketika si sulung
menggigau meminta ibunya pulang".
      
Mendengar cerita Pak
Qulyubi membuatku terisak-isak. Perjalanan hidupnya menyadarkanku. Aku
teringat Raihana. Perlahan wajahnya terbayang dimataku, tak terasa
sudah dua bualn aku berpisah dengannya. Tiba-tiba ada kerinduan yang
menyelinap dihati. Dia istri yang sangat shalehah. Tidak pernah meminta
apapun. Bahkan yang keluar adalah pengabdian dan pengorbanan. Hanya
karena kemurahan Allah aku mendapatkan istri seperti dia. Meskipun
hatiku belum terbuka lebar, tetapi wajah Raihana telah menyala
didindingnya. Apa yang sedang dilakukan Raihana sekarang? Bagaimana
kandungannya? Sudah delapan bulan. Sebentar lagi melahirkan. Aku jadi
teringat pesannya. Dia ingin agar aku mencairkan tabungannya.
      
Pulang dari pelatihan, aku menyempatkan ke took baju muslim, aku ingin
membelikannya untuk Raihana, juga daster, dan pakaian bayi. Aku ingin
memberikan kejutan, agar dia tersenyum menyambut kedatanganku. Aku
tidak langsung ke rumah mertua, tetapi ke kontrakan untuk mengambil
uang tabungan, yang disimpan dibawah bantal. Dibawah kasur itu
kutemukan kertas Merah jambu. Hatiku berdesir, darahku terkesiap. Surat
cinta siapa ini, rasanya aku belum pernah membuat surat cinta untuk
istriku. Jangan-jangan ini surat cinta istriku dengan lelaki lain.
Gila! Jangan-jangan istriku serong. Dengan rasa takut kubaca surat itu
satu persatu. Dan Rabbi�?�ternyata surat-surat itu adalah ungkapan
hati Raihana yang selama ini aku zhalimi. Ia menulis, betapa ia
mati-matian mencintaiku, meredam rindunya akan belaianku. Ia menguatkan
diri untuk menahan nestapa dan derita yang luar biasa. Hanya Allah lah
tempat ia meratap melabuhkan dukanya. Dan ya .. Allah, ia tetap setia
memanjatkan doa untuk kebaikan suaminya.
       Dan   betapa dia ingin hadirnya cinta sejati dariku.
      
"Rabbi dengan penuh kesyukuran, hamba bersimpuh dihadapan-Mu. Lakal
hamdu ya Rabb. Telah muliakan hamba dengan Al Quran. Kalaulah bukan
karena karunia-Mu yang agung ini, niscaya hamba sudah terperosok
kedalam jurang kenistaan. Ya Rabbi, curahkan tambahan kesabaran dalam
diri hamba" tulis Raihana.
   
Dalam akhir tulisannya Raihana
berdoa" Ya Allah inilah hamba-Mu yang kerdil penuh noda dan dosa
kembali datang mengetuk pintumu, melabuhkan derita jiwa ini
kehadirat-Mu. Ya Allah sudah tujuh bulan ini hamba-Mu ini hamil penuh
derita dan kepayahan. Namun kenapa begitu tega suami hamba tak
mempedulikanku dan menelantarkanku. Masih kurang apa rasa cinta hamba
padanya. Masih kurang apa kesetiaanku padanya. Masih kurang apa baktiku
padanya? Ya Allah, jika memang masih ada yang kurang, ilhamkanlah pada
hamba-Mu ini cara berakhlak yang lebih mulia lagi pada suamiku.
   
   Ya Allah, dengan rahmatMu hamba mohon jangan murkai dia karena   kelalaiannya.
Cukup hamba saja yang menderita. Maafkanlah dia, dengan penuh cinta
hamba masih tetap menyayanginya. Ya Allah berilah hamba kekuatan untuk
tetap berbakti dan memuliakannya. Ya Allah, Engkau maha Tahu bahwa
hamba sangat mencintainya karena-Mu. Sampaikanlah rasa cinta ini
kepadanya dengan cara-Mu. Tegurlah dia dengan teguran-Mu. Ya Allah
dengarkanlah doa hamba-Mu ini. Tiada Tuhan yang layak disembah kecuali
Engkau, Maha Suci Engkau".
   
Tak terasa air mataku mengalir,
dadaku terasa sesak oleh rasa haru yang luar biasa. Tangisku meledak.
Dalam tangisku semua kebaikan Raihana terbayang. Wajahnya yang baby
face dan teduh, pengorbanan dan pengabdiannya yang tiada putusnya,
suaranya yang lembut, tanganya yang halus bersimpuh memeluk kakiku,
semuanya terbayang mengalirkan perasaan haru dan cinta. Dalam keharuan
terasa ada angina sejuk yang turun dari langit dan merasuk dalam
jiwaku. Seketika itu pesona Cleopatra telah memudar berganti cinta
Raihana yang datang di hati. Rasa sayang dan cinta pada Raihan
tiba-tiba begitu kuat mengakar dalam hatiku. Cahaya Raihana terus
berkilat-kilat dimata. Aku tiba-tiba begitu merindukannya. Segera
kukejar waktu untuk membagi Cintaku dengan Raihana.
   
Kukebut
kendaraanku. Kupacu kencang seiring dengan air mataku yang menetes
sepanjang jalan. Begitu sampai di halaman rumah mertua, nyaris tangisku
meledak. Kutahan dengan nafas panjang dan kuusap air mataku. Melihat
kedatanganku, ibu mertuaku memelukku dan menangis tersedu- sedu. Aku
jadi heran dan ikut menangis. " Mana Raihana Bu?". Ibu mertua hanya
menangis dan menangis. Aku terus bertanya apa sebenarnya yang telah
terjadi.
   
" Raihanaï…istrimu. .istrimu dan anakmu yang
dikandungnya" . " Ada apa dengan dia". " Dia telah tiada". " Ibu
berkata apa!". " Istrimu telah meninggal seminggu yang lalu. Dia
terjatuh di kamar mandi. Kami membawanya ke rumah sakit. Dia dan
bayinya tidak selamat. Sebelum meninggal, dia berpesan untuk memintakan
maaf atas segala kekurangan dan kekhilafannya selama menyertaimu.
   
Dia meminta maaf karena tidak bisa membuatmu bahagia. Dia meminta maaf
telah dengan tidak sengaja membuatmu menderita. Dia minta kau
meridhionya" .
    Hatiku   bergetar hebat. " kenapa ibu tidak memberi kabar padaku?". "

    

Ketika
Raihana dibawa ke rumah sakit, aku telah mengutus seseorang untuk
menjemputmu di rumah kontrakan, tapi kamu tidak ada. Dihubungi ke
kampus katanya kamu sedang mengikuti pelatihan. Kami tidak ingin
mengganggumu. Apalagi Raihana berpesan agar kami tidak mengganggu
ketenanganmu selama pelatihan. Dan ketika Raihana meninggal kami sangat
sedih, Jadi Maafkanlah kami".
      
Aku menangis tersedu-sedu.
Hatiku pilu. Jiwaku remuk. Ketika aku merasakan cinta Raihana, dia
telah tiada. Ketika aku ingin menebus dosaku, dia telah meninggalkanku.
Ketika aku ingin memuliakannya dia telah tiada. Dia telah meninggalkan
aku tanpa memberi kesempatan padaku untuk sekedar minta maaf dan
tersenyum padanya. Tuhan telah menghukumku dengan penyesalan dan
perasaan bersalah tiada terkira.
      
Ibu mertua mengajakku
ke sebuah gundukan tanah yang masih baru dikuburan pinggir desa. Diatas
gundukan itu ada dua buah batu nisan. Nama dan hari wafat Raihana
tertulis disana. Aku tak kuat menahan rasa cinta, haru, rindu dan
penyesalan yang luar biasa. Aku ingin Raihana hidup kembali. Dunia
tiba-tiba gelap semua ……..
      
       Sumber :
       Buku : Pudarnya Pesona Cleopatra ( Novel Psikologi Islam Pembangun Jiwa   )
     Karangan : Habiburrahman El Shirazy ( Penulis Novel best seller   Ayat-ayat cinta)

sumber www.dudung.net

   

Tak Cukup Hanya Cinta

July 7th, 2007 by hoshiicaq

Tak Cukup Hanya Cinta

"Sendirian aja dhek Lia? Masnya mana?", sebuah pertanyaan tiba-tiba
mengejutkan aku yang sedang mencari-cari sandal sepulang kajian tafsir
Qur’an di Mesjid komplek perumahanku sore ini. Rupanya Mbak Artha
tetangga satu blok yang tinggal tidak jauh dari rumahku. Dia rajin
datang ke majelis taklim di komplek ini bahkan beliaulah orang pertama
yang aku kenal disini, Mbak Artha juga yang memperkenalkanku dengan
majelis taklim khusus Ibu-ibu dikomplek ini. Hanya saja kesibukan kami
masing-membuat kami jarang bertemu, hanya seminggu sekali saat ngaji
seperti ini atau saat ada acara-acara di mesjid. Mungkin karena
sama-sama perantau asal Jawa, kami jadi lebih cepat akrab.

"Kebetulan Mas Adi sedang dinas keluar kota mbak, Jadi Saya pergi
sendiri", jawabku sambil memakai sandal yang baru saja kutemukan
diantara tumpukan sandal-sendal yang lain. "Seneng ya dhek bisa datang
ke pengajian ba reng suami, kadang mbak kepingin banget ditemenin Mas
Bimo menghadiri majelis-majelis taklim", raut muka Mbak Artha tampak
sedikit berubah seperti orang yang kecewa. Dia mulai bersemangat
bercerita, mungkin lebih tepatnya mengeluarkan uneg-uneg. Sebenarnya
aku sedikit risih juga karena semua yang Mbak Artha ceritakan
menyangkut kehidupan rumahtangganya bersama Mas Bimo. Tapi ndak papa
aku dengerin aja, masak orang mau curhat kok dilarang, semoga saja aku
bisa memetik pelajaran dari apa yang dituturkan Mbak Artha padaku. Aku
dan Mas Adi kan menikah belum genap setahun, baru 10 bulan, jadi harus
banyak belajar dari pengalaman pasangan lain yang sudah mengecap asam
manis pernikahan termasuk Mbak Artha yang katanya sudah menikah dengan
Mas Bimo hampir 6 tahun lamanya.

"Dhek Lia, ndak buru-buru kan? Ndak keberatan kalo kita
ngobrol-ngobrol dulu", tiba-tiba mbak Artha mengagetkanku. " Nggak
papa mbak, kebetulan saya juga lagi free nih, lagian kan kita dah lama
nggak ngobrol-ngobrol" , jawabku sambil menuju salah satu bangku di
halaman TPA yang masih satu komplek dengan Mesjid.

Dengan suara yang pelan namun tegas mbak Artha mulai bercerita.
Tentang kehidupan rumah tangganya yang dilalui hampir 6 tahun bersama
Mas Bimo yang smakin lama makin hambar dan kehilangan arah.

"Aku dan mas Bimo kenal sejak kuliah bahkan menjalani proses pacaran
selama hampir 3 tahun sebelum memutuskan untuk menikah. Kami sama-sama
berasal dari keluarga yang biasa-biasa saja dalam hal agama", mbak
Artha mulai bertutur. "Bahkan, boleh dibilang sangat longgar. Kami pun
juga tidak termasuk mahasiswa yang agamis. Bahasa kerennya, kami
adalah mahasiswa gaul, tapi cukup berprestasi. Walaupun demikian kami
berusaha sebisa mungkin tidak meninggalkan sholat. Intinya
ibadah-ibadah yang wajib pasti kami jalankan, ya mungkin sekedar gugur
kewajiban saja. Mas Bimo orang yang sabar, pengertian, bisa ngemong
dan yang penting dia begitu mencintaiku, Proses pacaran yang kami
jalani mulai tidak sehat, banyak bisikan-bisikan syetan yang mengarah
ke perbuatan zina. Nggak ada pilihan lain, aku dan mas Bimo harus
segera menikah karena dorongan syahwat itu begitu besar. Berdasar
inilah akhirnya aku menerima ajakan mas Bimo untuk menikah".

"Mbak nggak minta petunjuk Alloh melalui shalat istikharah?" , tanyaku
penasaran. "Itulah dhek, mungkin aku ini hamba yang sombong,untuk
urusan besar seperti nikah ini aku sama sekali tidak melibatkan Alloh.
Jadi kalo emang akhirnya menjadi seperti ini itu semua memang akibat
perbuatanku sendiri"

"Pentingnya ilmu tentang pernikahan dan tujuan menikah menggapai
sakinah dan mawaddah baru aku sadari setelah rajin mengikuti
kajian-kajian guna meng upgrade diri. Sejujurnya aku akui, sama sekali
tidak ada kreteria agama saat memilih mas Bimo dulu. Yang penting mas
Bimo orang yang baik, udah mapan, sabar dan sangat mencintaiku. Soal
agama, yang penting menjalankan sholat dan puasa itu sudah cukup. Toh
nanti bisa dipelajari bersama-sama itu pikirku dulu. Lagian aku kan
juga bukan akhwat dhek, aku Cuma wanita biasa, mana mungkin pasang
target untuk mendapatkan ikhwan atau laki-laki yang pemahaman agamanya
baik", papar mbak Artha sambil tersenyum getir.

Aku perbaiki posisi dudukku, aku pikir ini pengalaman yang menarik.
Rasa penasaran dan sedikit nggak percaya karena Mbak Artha yang aku
kenal sekarang adalah tipikal wanita sholehah, berhijab rapi, tutur
kata lembut, tilawahnya bagus dan smangatnya luar biasa. Benar-benar
jauh dari profil yang di ceritakan tadi. Ternyata benar kata pepatah,
bahwa pengalaman adalah guru yang paling berharga. Mungkin bertolak
dari minimnya pengetahuan agama, akhirnya mbak Artha berusaha keras
untuk meng-up grade diri. Dan subahanalloh hasilnya sungguh
menakjubkan. Mbak Artha mekar laksana bunga yang sedang tumbuh di
musim semi, tapi siapa sangka ternyata indahnya bunga itu tak lain
karena kotoran-kotoran hewan yang menjadi pupuk disepanjang kehidupannya.

Rupanya harapan mbak Artha untuk bisa menimba ilmu agama bersama-sama
sang suami tinggal impian. Mas Bimo yang diharapkan bisa menjadi
katalisator dan penyemangat ternyata hanya jalan ditempat. Hapalan Juz
Amma nya belum bertambah, tilawah Al Qur’an-nya masih belum ada
perbaikan masih belum lancar. Sementara kesibukannya sebagai Brand
Manager di salah satu perusahaan Telco milik asing, makin menyita
waktu dan perhatiannya. Masih syukur bisa mengahabiskan weekend
bersama Mbak Artha dan Raihan anak semata wayang mereka, kadang
weekend pun mas Bimo harus ke kantor atau meeting dan lain-lain. Tidak
ada waktu untuk menghadiri majelis taklim, tadarus bersama bahkan
sholat berjama’ah pun nyaris tidak pernah mereka lakukan.

Aku jadi teringat khutbah pernikahanku dengan Mas Adi, waktu itu sang
ustad berkata "Rumah tangga yang didalamnnya ditegakkan sholat
berjam’ah antara anggota keluarga serta sering dikumandangkan
ayat-ayat Allloh akan didapati kedamaian dan ketenangan didalamnya"

"Dhek….", suara mbak Artha membuyarkan lamunanku. "Iya mbak, saya
masih denger kok. Saya hanya berpikir ini semua bisa menjadi ladang
amal buat mbak Artha", jawabku sigap supaya nggak terlihat kalau emang
lagi ngelamun.

"Pada awalnya aku juga berpikir seperti itu dhek. Aku berharap Mas
Bimo juga memiliki keinginan yang sama dengan ku untuk memperdalam
pengetahuan kami terhadap Islam. Aku cukup gembira ketika mas Bimo
menyambut ajakanku untuk sama-sama belajar. Namun dalam perjalanannya,
smangat yang kami miliki berbeda. Mas Bimo seolah jalan ditempat.
Sempat miris hati ini ketika suatu saat aku meminta beliau menjadi
imam dalam sholat magrib.

Bacaan suratnya masih yang itu-itu juga dan masih terbata-bata. Aku
baru tau bahwa dia belum pernah khatam Qur’an. Harusnya kan suami itu
imam dalam keluarga ya dhek?", mata mbak Artha mulai berkaca-kaca.

"Apa harapanku terlalu tinggi terhadap suamiku? Bukankah harusnya
suami itu adalah Qowwam, pemimpin bagi istrinya. Lalu bagaimana jika
sang pemimpin saja belum memiliki bekal yang cukup untuk menjadi
seorang pemimpin?", suara mbak Artha mulai bergetar.

"Terkadang aku ingin sekali tadarus bersama suami, tapi itu semua
nggak mungkin terjadi selama suamiku tidak mau belajar lagi membaca
Al-qur’an.

Aku juga merindukan sholat berjama’ah dimana suami menjadi imannya
sementara kami istri dan anak menjadi makmumnya. Apa keinginanku ini
berlebihan dhek?", tampak bulir bening mulai mengalir dipipi mbak Artha.

"Berbagai cara sudah ku coba, supaya Mas Bimo bersemangat memperbaiki
diri terutama dalam hal ibadah. Tentunya dengan sangat hati-hati
supaya tidak menyinggung perasaannya dan supaya tidak berkesan
menggurui. Aku mulai rajin mengikuti kajian-kajian keislaman, mencoba
sekuat tenaga untuk sholat 5 waktu tepat pada waktunya dan tilawah
qur’an setelah sholat subuh. Bahkan berusaha bangun malam menunaikan
tahajud serta menjalankan sholat dhuha dipagi hari. Semuanya itu
kulakukan, dengan harapan mas Bimo pun akan menirunya. Aku berharap
sekali dia terpacu dan semangat, melihat istrinya bersemangat" , papar
mbak Artha dengan suara yang agak tinggi.

"Tapi sampai detik ini semuanya belum membuahkan hasil. Aku seperti
orang yang berjalan sendiriian. Tertatih, jatuh bangun berusaha
menggapai cinta Alloh. Aku butuh orang yang bisa membimbingku menuju
surga. Dan harusnya orang itu adalah Mas Bimo, suami ku"

Kurangkul pundaknya, sambil berbisik "sabar ya mbak, mudah-mudahan
semuai harapanmu akan segera terwujud". Mbak Artha tampak agak tenang
dan mulai melanjutkan ceritanya.

"Dari segi materi materi apa yang Mas Bimo berikan sudah lebih dari
cukup, overall Mas Bimo suami yang baik dan bertanggung jawab. Bahtera
rumah tangga kami belum pernah diterpa badai besar, semuanya berjalan
lancar. Sampai disuatu saat mbak mulai menyadari sepertinya bahtera
kami telah kehilangan arah dan tujuan. Kami hanya mengikuti arus
kehidupan yang smakin lama smakin membawa kami kearah yang tidak
jelas. Kami sibuk dengan aktifitas kami masing-masing. Kehangatan,
kemesraan, ungkapan sayang yang dulu paling aku kagumi dari Mas Bimo
sedikit demi sedikit terkikis di telan waktu dan kesibukannya. Dan
yang lebih parahnya lagi, unsur religi sama sekali tak pernah di
sentuh Mas Bimo sebagai kepala keluarga. Fungsi Qowam sebagai pemimpin
dalam menggapai cinta hakiki dari Sang Pemilik Cinta, terabaikan.
Mungkin karena memang bekalnya yang kurang. Sunguh, harapan menggapai
sakinah dan mawaddah serta rahmah semakin hari kian jauh dari
pandangan. Rumah tangga kami bagai tanpa ruh dan kering", suara mbak
Artha mulai bergetar kembali.

Aku jadi speachless nggak tau musti berkata apa lagi. Ternyata
ketenangan rumah tangga mbak Artha, menyimpan suatu bara yang setiap
saat bisa membakar hangus semuanya. Hanya karena satu hal, yaitu
alpanya sentuhan spritual dalam berumahtangga. Atau mungkin juga
adanya ketidaksamaan visi atau tujuan saat awal menikah dulu. Bukankan
tujuan kita menikah adalah ibadah untuk menyempurnakan setengah agama.
Idealnya, setelah menikah keimanan, ibadah kita makin meningkat.
Karena ada suami yang akan menjadi murobbi atau mentor bagi istri,
atau kalaupun sebaliknya jika istri yang lebih berilmu tidaklah
masalah jika istri yang menjadi mentor bagi suami. Yang penting tujuan
menyempurnakan dien guna menggapai sakinah dan mawaddah melalui cinta
dan rahmah makin hari makin terwujud. Mungkin itulah sebabnya mengapa
kreteria agama lebih diutamakan daripada fisik, harta dan keturunan.

Ternyata cinta saja tak cukup untuk bekal menikah, begitupun dengan harta.

Pernikahan merupakan hubungan secara emosional yang harus ditumbuhkan
dengan sangat hati-hati, penuh kepedulian dan saling mengisi.Bahkan
puncak kenikmatan sebuah pernikahan bukanlah dicapai melalui penyatuan
fisik saja melainkan melalui penyatuan emosional dan spiritual.
Pernikahan adalah sarana pembelajaran yang terus menerus. Baik untuk
mempelajari karakter pasangan ataupun untuk meng upgrade diri
masing-masing.

"Dhek Lia….", Mbak Artha membuyarkan lamunanku. "Makasih ya dhek dah
mau jadi kuping buat mbak", mbak Artha menggenggam tanganku sambil
tersenyum.

"Mbak yakin dhek Lia bisa dipercaya, do’akan supaya aku diberikan
jalan yang terbaik sama Alloh".

Aku pun tersenyum, "Insyaalloh mbak, maksih juga dah mau sharing
masalah ini dengan saya. Banyak hikmah yang bisa saya dapat dari
cerita mbak. Saya masih harus banyak belajar soal kehidupan berumah
tangga mbak.

Jazakillah".

Tak terasa hampir 2 jam kami ngobrol di teras TPA. Kumandang adzan
dhuhur, mengakhiri obrolan kami. Sambil menuju tempat wudhu mesjid
untuk sholat dhuhur berja’maah kusempatkam mengirim sms ke mas Adi.
"Mas aku kangen, kangen sholat bareng, kangen tadarus bareng cepet
pulang ya Mas. Uhibbukafillahi Ta’ala" ***

Sumber: Millist
http://dakwah-online.web.id/